Rabu, 28 Desember 2011

Desember dan Hujan


Lagi hujan....

'Desember Kelabu' begitu kata Mbak Yuni Sarah. Desember, tak lepas dari hujan. Hujan, merupakan sebuah berkah... begitu kataku dan begitu pula Tuhan akan janjinya. Setiap tetesannya selalu menyiratkan cerita. Mengaburkan potret kenangan yang pernah hinggap di benak kita. Setiap manusia pasti memiliki ceritanya sendiri...tentang hujan.
Hmm..lagi hujan, sepertinya dengerin lagu "Hujan"nya Utopia cocok deh.. :)

"Hujan" by: Utopia

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti 
Aku tetap tak ’kan berubah

Aku selalu bahagia Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku 

Minggu, 25 Desember 2011

KARET GELANG (end)


Sesederhana itu....

Minggu pagi, cukup cerah dibanding beberapa hari terakhir yang terlihat muram. Kali ini aku bangun cukup pagi, sehingga ku bisa menghirup udara pagi yang belum tercemar polusi. Entahlah, sebuah hal yang jarang ku lakukan di hari minggu. Sesaat, fikirku terusik oleh mimpiku semalam. Sama sekali tak terbesit dalam benakku. Ah, kamu. Kamu membuat waktuku tersita dengan angan tentangmu.

Drrrtt..drrttt....

Sinyal kuat, seperti ada jaringan khusus yang menghubungkanku denganmu. Kamu pun menelepon, segera.

“Hallo?” sapaku.

“Hey, sudah bangun rupanya?” sahutmu.

“Yeah, ada apa?” tanyaku.

“Umm..may I invite you, come home and  we have a breakfast now. How?” kamu menawarkan.

“Mm..boleh.” kebetulan belum sarapan, pikirku. “Okay, see you there” jawabku segera.

“Yes, can’t wait for your coming. See you...”

Tuuutt.....

Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju rumahmu. Bukan karena sarapan yang kamu tawarkan, tapi...entahlah.

Di sebuah rumah, tak terlalu besar namun terasa nyaman dan asri kuberada kini. Kulihat sebuah lukisan mawar putih yang tertempel di dinding ruang tamu. Tak asing bagiku, itu lukisan yang kuantar waktu itu.

“Andai mamah bisa lihat.” katamu, yang juga memperhatikan lukisan yang kupandangi. “Mamah suka sekali mawar putih, so sampai saat ini aku terus merawat taman mawar miliknya.”

Bersyukur, aku masih memiliki Mami dan Papi yang menyayangiku. Sementara kamu, sendiri tanpa Mama yang tlah pergi jauh ke sisi-Nya dan Papa yang tak pernah ada untukmu. Namun, kamu slalu bisa tersenyum. Sekarang, di hadapanku. Ah, harusnya aku banyak belajar darimu.

“Hey, ngelamun!” serumu membuyarkan lamunanku.

“Eh, mana sarapannya? Sudah siap ya? Hehe” sahutku.

Hmm..aroma bawang bombai dan saus tomat mulai tercium. Dua piring spaghetti tersaji di meja makan. Satu hal yang menarik dari kamu, kamu pandai sekali memasak. Ya, suatu keahlian yang tak kupunyai.

“Tenang saja, ga pedes kok. Tanpa saus cabe dan sedikit merica, khusus buat kamu.” terangmu.

“Hehe, tau aja kamu...” sahutku.

Obrolan ringan menyertai sarapan kita. Hingga tak tersisa sedikitpun aku melahap semua makanan yang ada di piringku. Entahlah, sungguh menyenangkan berada di dekatmu. Terasa ringan, seolah tak ada beban yang harus kututupi. Tak ada senyum palsu yang harus kukembangkan.

Sambil menikmati teh manis obrolan santai pun berlanjut ke halaman depan. Aku memilih untuk duduk di ayunan dan sesekali tercium aroma mawar yang terseret angin lembut pagi. Hmm, Beautiful morning!

“Mm..may I ask you?” ujarmu menyela indahnya pagi.

“Apa?” balasku.

“Menurut kamu gimana nih, seseorang musti jadian dulu baru makan bareng, jalan bareng, gandengan tangan, lalu ciuman. Atau sebaliknya. Jalan dulu, makan bareng, gandengan tangan, ciuman lalu jadian?” tanyamu sambil memainkan sebuah karet gelang di tanganmu.

“Tergantung. Kondisional sih, tapi aku pilih opsi yang kedua” jawabku.

Why?”

“Kurasa, sesuatu itu perlu proses. After that all process has been done...ya, tinggal nentuin aja mau dibawa kemana. Itu pun tergantung ada tidaknya chemistry antara mereka, you know lah”

“Hmm..berarti ada satu hal yang belum aku lakukan” kamu sempat bergumam sendiri, dan tak sengaja aku mendengar gumamanmu yang terdengar jelas di telingaku.

“Apa?” tanyaku padamu.

Kamu hanya tersenyum penuh makna. Lalu, kamu mendekatkan wajahmu. Entah kenapa aku hanya berdiam diri tak bereaksi. Pipiku terasa panas, menanti dan menerka-nerka apa yang akan kamu lakukan dan...secara lembut bibirmu menyentuh bibirku.

End :)

*inspiration song: "Hanya Kau yang Bisa" by Easy Tiger
didedikasikan kepada seseorang yang bisa buatmu kembali tertawa & lupakan semua luka yang ada

Let's listen & Happy wathcing! ^^,

KARET GELANG (part 3)



Yang spesial berkaret dua...

Malam ini, sedikit penat kurasa. Rintik hujan pun sudah letih menangis rupanya. Berpeluk jaket kumelangkah menuju ke kawasan pedagang kaki lima yang tak jauh dari gallery tempatku berkarya. Jajanan malam nampak melambai-lambai, tak sabar ingin segera sampai di tangan pembeli. Melihat banyak makanan, sontak saja perut semakin berontak, berdemo kepadaku meminta jatah makan segera diturunkan.

Drrtt..drrrtt...

“Halo chiind! Lagi dimenong? Pulang cepet ga? Adduuhh...rasanya aku mau matii niih...cepetan pulang yah, aku nitip sesuatu!!” suara lebay dari seberang.

“Iya, bentar lagi pulang. Ni mau cari makan dulu. Kenapa sih? Heboh banget!”

Nah, kebetulan tuh. Aku bungkusin ya, nasi goreng pedas seperti biasa. Kamu makannya di rumah aja, biar ga kelamaan aku nunggunya” 

Ternyata si cowok feminin ini sudah balik dari kampung rupanya. Syukur deh, jadi ada yang bantu urus-urus rumah besok.

“Busyet dah ni orang! Minta tolong yang bagusan dikit napa?” jawabku sedikit dongkol.

“Ya, maap chiind, uda kelaperan mampus nih...” terdengar nada memelas.

“Iya, iya...” jawabku malas.

“Sekalian martabak manis ya, coklat keju. Tengkyuu...”

Tuuut...tuuut....

Setiap hari, hampir setiap malam berkawan dengan hujan. Yah, memang sedang musimnya, namun cukup membantu menyejukkan kota pahlawan ini. Hmm, aroma tanah basah karena hujan ditambah aroma vanili dari penjual martabak membuatku terlena karenanya. Sembari menunggu martabak manis matang, mataku menyapu seluruh kawasan PKL. Terlihat beberapa pasangan muda-mudi nampak asyik menikmati jajanan malam. Ah ya, ini sabtu malam. So what? nothing.. 

Tak jauh dariku, di sela-sela mereka kulihat kamu. Ya, kurasa itu kamu. Tak begitu menghiraukanmu, lalu aku pun menegaskan langkahku menuju pedagang penjual nasi goreng. Aku dan kamu berpapasan.

“Hai!” sapamu.

“Ya..” balasku sedikit ragu.

“Thank’s ya, barangnya sudah diantar sampai rumah.” katamu sambil memberikan kantong plastik berisi dua bungkus makanan kepadaku.

“Apa ini?” tanyaku sedikit bingung.

“Nasi goreng, yang spesial yang karetnya dua itu buat kamu. Gratis.” jelasmu.

“Ng...” belum sempat ku lontarkan pertanyaan lagi buru-buru kamu menimpali. 

Sorry, aku ga sengaja dengar waktu kamu memesan di pedagang nasgor tadi.”

“Owh...thank’s ya” ucapku sedikit malu.

Kamu pun melangkah pergi, hendak menyeberangi jalan. Namun, refleks ku menggenggam lenganmu dan mengikuti langkahmu. Sesampainya di bibir jalan, aku tersadar dan perlahan melepas genggamanku.

“Sorry...” kataku dan kamu hanya tersenyum padaku. “Ng...aku agak takut kalo nyebrang sendirian. Hehe..”

“Ga papa kok, mungkin lain kali bisa lebih lama lagi” katamu. “Take care ya!” kamu pun beranjak pergi. Namun tak lama, kamu berbalik dan berteriak padaku.

 “Hey, lukisanmu jelek! sama sekali ga mirip sama mamah!” teriakmu sambil berlalu.

Aku hanya terdiam, berdiri dan masih menatap punggungmu yang kian menjauh.

bersambung...

Selasa, 06 Desember 2011

KARET GELANG (part 2)


Pagi mendung, kenapa kamu...

Ah, langit masih gelap. Aku masih enggan tuk bangun dari tidurku. Kulihat jam digital ponselku, pukul 08:25. Seharusnya sudah pagi, tapi langit masih gelap tertutup mendung. Kulirik sesuatu persegi terbungkus kertas coklat di sudut kamar. Ah, ya... aku harus mengantar pesanan orang pagi ini.

Kupaksakan mata ini terbuka, sedikit gontai kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Setengah sadar kurogoh saku celanaku, ternyata aku tertidur masih dengan kostumku semalam. Ada dua buah karet gelang, merah dan hijau. Konyol, tanpa sadar aku menyimpan karet gelang darimu kemarin.

Sepi, tak ada penghuni lain yang tinggal di kontrakan ini. Si cowok feminin yang juga tinggal di sini pulang kampung sejak minggu kemarin dan menitipkan sekotak aquarium berisi seekor ikan lele albino kepadaku. Yeah, I have to feed it or it’ll be my breakfast. Hehe...    

Yup! Kali ini terpaksa kupesan taxi, skuter yang biasa mengantarku sedang sakit. Kasihan dia, gara-gara kejadian kemarin dia harus dirawat di bengkel untuk beberapa hari.

Tak lama, taxi pun datang. Aku pun bergegas membawa pesanan yang sudah kusiapkan kemarin.

“Wisma Permai bang, dualima ya...” tawarku, tanpa pasang argo.

Deal! Taxi pun melesat mengantarku menuju ke sebuah komplek perumahan. Hmm...aroma tanah basah masih terasa. Bekas hujan semalam masih menyisakan genangan air di jalanan. Pagi ini langit nampak muram, seolah menatap sendu kepadaku. Aku hanya meringis, mengharap secercah sinar menghapus mendung luka yang masih tersimpan. Luka? kurasa bukan...mungkin hanyalah setitik noda yang perlu sedikit kreasi untuk membuatnya terlihat lebih menarik. 

Mendadak, goncangan taxi karena polisi tidur membuyarkan lamunanku. Ah, hampir sampai. Nomor 57. Taxi yang kutumpangi berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat putih berpagar coklat kayu. Tampak asri dengan sentuhan tanaman perindang yang tergantung sebuah ayunan di salah satu dahannya, dan... sebuah taman mini penuh bunga mawar. Nice! Secara refleks, aku tersenyum  :)
 
Ting tong...

Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu pagar. Yak, seorang yang sudah pernah kutemui sebelumnya. Kamu...

bersambung...

Selasa, 29 November 2011

Sepertinya...



Sepertinya senang, sepertinya baik, sepertinya suka, sepertinya luka, sepertinya sakit, sepertinya tolol, sepertinya....

Ah, seperti apa sebenarnya. Tiba-tiba mendung, lalu muncul kegalauan baru dan diikuti kegalauan berikutnya. Sekaligus dalam satu waktu aku menenggak beberapa pil pahit itu dan kulihat kemasannya, bertuliskan ‘disappointed’. Glek! Aku pun berusaha tuk menikmatinya sebaik mungkin. Ku hanya bisa tersenyum dan terbahak, mengatakan “yeah, I’m fine! aku baik-baik saja” dan kuharap itu benar adanya. Namun sepertinya...

Aku merasa kedinginan, aku pun menggigil. Kugigit lengan dan jemariku tuk menahan kelu. Beberapa pukulan kulayangkan ke kepalaku. Umpatan2 tolol kulontarkan pada diriku. Gecko dan Tokrit hanya mampu menatapku datar. Lalu kulirik bennda tajam itu. Perdebatan pun terjadi di antara mereka.

Gecko: “Don’t do it! It can harm you darl!”
Tokrit: “Just do it! It may can make you relax..key?”
Ya, ya, ya...kali ini Tokrit yang menang.

Self injury. I do it again! Kulumuri benda itu dengan alkohol. Goresan2 baru pun terbentuk pada lenganku, menemani goresan lama yang masih membekas. Cairan merah pun mengalir menari-nari sambil menjulurkan lidahnya. Semakin menyadarkanku bahwa aku adalah makhluk berhaemoglobin yang masih bernyawa. Memuakkan!

Sebenarnya kudengar sahutan2 itu, sebenarnya kudengar ketukan yang semakin mengeras itu. Namun, sengaja ku tak hiraukan. Dad, sorry I can’t make you proud. Mom, sorry I can’t tell you anything (again). Saat ini aku benar2 kehilangan rasa percayaku, bahkan untuk diriku sendiri. Biarkan sementara ku pulihkan ini sendiri.

Kusobek semua catatan impianku. Biarkan tuk sejenak tak memikirkan dan melakukan apapun. Biarkan kuleburkan semua dalam lelapku. Biarkan kunikmati tidur busukku ini, dan biarkan kuterbangun kala Desember tak lagi mendung...

Sabtu, 19 November 2011

KARET GELANG (part 1)


November Rain, aku, kamu...

Hujan...entah kenapa rintik hujan selalu saja menyisakan ruang rindu. Teringat akan serpihan masa yang sudah lalu. Aromanya begitu kental, aroma tanah basah menyegarkan, aku suka itu. Ah, kali ini aku tak kan membahas tentang rindu atau apapun semacamnya. Hanya saja kali ini momennya memang sedang hujan.

Rabu malam, sepertinya hujan deras telah mengguyur kawasan di sebuah kompleks ruko, menyisakan genangan-genangan air di jalanan. Masih hujan, tak begitu deras dan tak terlalu dingin namun cukup menyejukkan kota pahlawan yang beberapa hari terakhir ini berteriak kegerahan. Aku berlari kecil melewati trotoar seraya menenteng sesuatu persegi berukuran 40x40 cm terbungkus kertas coklat dan dibalut plastik transparan yang tak lain adalah buah karyaku. Langkahku pun terhenti di sebuah kedai kopi beraksen klasik dengan bangunan bercat serba hijau dibalut warna coklat kayu. Tak ada salahnya ku menikmati kopi di sini dan ditemani rintikan hujan. So romantic or...ah, sudahlah....

Tak begitu ramai, hanya ada seorang barista, dua pelayan dan dua penikmat kopi yang duduk di dekat meja order. Dan..satu lagi, kamu. Kamu berada tak jauh dari pintu masuk yang dibiarkan terbuka oleh sang pemilik kedai. Kamu duduk sendiri dengan coffee cream yang sepertinya baru saja dipesan. Ah, perhatian sekali aku. Tidak juga, karena baru saja aku melihat seorang pelayan mengantarkannya ke mejamu dan itu tepat saat aku baru memasuki pintu kedai dan... ya, kamu tampak seperti sedang memelototiku. That’s so annoying!

Wew! rambutku sedikit basah terguyur hujan dan juga ini, bercak cipratan comberan yang diciptain sopir taxi tadi membentuk corak abstrak pada blazer abu-abu yang kukenakan. Ya, mungkin tampilanku memang sedikit kacau sehingga sampai detik ini kamu tak berhenti untuk memelototiku. Apalagi aku terlihat seperti habis kebanjiran dengan sepasang sendal jepit karet dan celana jeans yang kucincing hampir selutut. Hellow, ada yang salah denganku?? Ah, ke toilet sajalah...
Sehabis bebersih diri dari toilet tanpa basa basi kupesan sepiring nasi goreng spesial ga pake pedes di meja order.

“Maaf, kami tidak menyediakan menu nasi goreng” sahut seorang pelayan kepadaku.

Konyol! Ini kan kedai kopi, bukan warung nasgornya bang Jaja. Ah, otak sama perut sudah tidak sinkron lagi rupanya.

“Becanda ah mas” balasku ngeles sambil cengengesan “Hot Cappucino-nya aja sepiring, eh..secangkir maksudnya"

Sambil meletakkan blezer dan tas slempang di kursi kosong tempat yang kupilih, kulirik kamu yang masih duduk di sana. Kamu sudah tidak memelototiku lagi, mungkin matamu sudah letih seperti mau keluar karena terlalu lama melotot. Kulihat kau sibuk dengan ponsel yang kamu pegang. Sepertinya kamu pun tersadar, buru-buru aku membuang muka.

Kutengok keluar, ternyata hujan mengguyur semakin deras. Untunglah aku sudah tidak berkeliaran di jalanan. Sejenak melepaskan penat, sendiri kunikmati kopi panas yang tadi kupesan dan sesekali kuhisap rokok putih di tanganku. Hmm..nikmat! kurasa cukuplah memberi sedikit ketenangan atas beberapa kekecewaan yang kutelan hari ini.

Ctaakk!!
Widih, ada yang usil. Karet gelang warna merah tepat mengenai jidatku. Ternyata...hey kamu! Kamu rupanya. Suka sekali menganggu ketenangan orang. Kulirik kamu yang ada di sana, tak ada rasa bersalah malah tersenyum puas. Hmm..tidak, tidak. Aku tidak membalasnya, hanya buang-buang energi saja. Cuekin sajalah.

Ctaakk!!
Kembali, karet gelang mengenai jidatku. Kali ini warna hijau.
“Hey, kamu! Satu kali lagi kena jidat saya, dapet piring cantik kamu” seruku padamu.

“Ogah ah, saya maunya nona cantik saja” jawabmu.

Aku diam saja, malas membalasnya.

“Itu dua karet dari saya, simpan baik-baik. Anggap saja kenang-kenangan dari saya. Satu karet lagi, nantilah kalo kita ketemu lagi. Haha.. ” kamu pun ngeloyor begitu saja keluar kedai.

Yak..aku cuma bisa nyengir tak jelas.

bersambung...

Senin, 31 Oktober 2011

Ah, lagi lagi lagu GALAU

Galau ga Rasional
Ah, ‘galau’. Hayoo siapa sih yg ga kenal sm ‘galau’? Tahun ini emang lagi booming bgt ni kata, bahkan jadi primadona di kalangan pemuda masa kini. Entah galau karena masalah cinta, skripsi, kerjaan, ekonomi, kemiskinan, binatang piaraan, gosip tetangga, ga bisa boker dan masih banyak galau2 lainnya...
Next..

Beu.. akhir2 ini banyak yah musisi2 yg mengusung lagu dg tema galau. Mulai dari Geisha, d’Masive, Armada, Syahrini..etc. Busyet liriknya mengena banget di hati orang yg lagi galau. Nah, dengan dengerin musik macam gini nih yg bikin kamu semakin galau dan semakin meyakinkan diri betapa merananya dirimu. Cih..

Ok Folk! Move on! Kamu akan semakin galau jika terus2an dengerin musik macam itu. Ganti playlist kamu dengan lagu2 yg lebih menyenangkan dan inspiratif! Misalnya lagunya RAN “Slamat Pagi” ato “Firework” nya Katy Perry positif bgt tuh! ato liat yg bening2 macam Cherrybell disarankan bgt. Ahihihii.. #ketawabernard
Seperti yg dilontarkan oleh para motivator, berfikirlah positif. Itu akan mempengaruhi alam bawah sadar pikiran kamu. Nah, salah satunya dengarkanlah musik2 yg positif lalu perhatikan apa yang terjadi...
Asal kamu tau ya, dalam keadaan depresi alias galau bisa bikin tubuh ga sehat loh. Cekidot:
http://pemulihanjiwa.com/selama-5-menit-marah-imun-sistem-tubuh-kita-depresi-6-jam.html

Penggalauan Massal

Awas galau itu bisa menular!
Ada seorang yg galau trus apdet status eh, banyak yg kasih jempol. Ngetuit, eh banyak yg RT. Cerita ke temen, eh ditanggepin “iya, gue jg ngerasain apa yg lu rasain kok” ikut galau deh. Trus muncul temen yg laennya yg awalnya ga ngerti apa2 eh, terbawa suasana jd ikutan galau jg deh. Jadi deh para galauers berkumpul, dan terbentuklah sebuah komunitas atau geng galau. Mereka semakin larut dalam kegalauannya karena merasa senasib, sampe2 nangis berjamaah. Nah, kaya gini nih yg bikin galauers semakin galau parah dan ini ga bisa dibiarkan! Ayo bubar2!!
Next..

Semakin kamu mempublikasikan kegalauan kamu, akan semakin menyebar pula virus2 galau tersebut. Ada juga yg malah berdoa lewat jejaring sosial, “Tuhan, kuatkan hambamu yg sdg galau ini...” Omaigosh!! Ibadah donk. Bukan lewat jejaring sosial kaya gini. Ngapain sih berkeluh kesah kok dipublikasikan? Malah semakin menyiksa diri, keinget terus tiap buka akun. Hehe.. Alangkah baiknya jika kita nebarin hal2 yg positif, yang menyenangkan bahkan memotivasi. Selain untuk memotivasi diri sendiri, orang yg baca kan jadi ikut seneng. Kalo kita uda bs bikin orang lain seneng, pahala tu!

Nah, daripada mikirin masalah yg bikin  galau mending mikirin gimana solusinya buat bahagia. Ciptakan energi positif, lakukan kegiatan yg bermanfaat, alihkan ke hobi kamu. Hobi yg bener loh! Kalo hobinya gossip, udah mending tidur aja deh. Perbanyaklah bersyukur, bersedekah, memaafkan, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan lalu perhatikan apa yg terjadi... *jadi kayak Om Mario deh*

Penggalauan Massal

Ok Folk!
Mungkin ada sebagian dari kalian mengatakan ini: “Ah, yg nulis blog ini bullshit bgt! Teori! Lu ga pernah ngrasain galau sih!” - biasa, pasti ada aja yg mikir negatif –
Setiap orang tuh pasti pernah ngalamin yang namanya masa2 galau, termasuk gue.
Sempet nih beberapa waktu lalu, sumpah gue galau bgt! Bayangin gue bener2 ngerasa sendiri, jobless, ga ada duit, ga bisa kemana2, ditinggal pacar, sahabat pada ngilang semua ditambah lagi pertengkaran mami-papi yang seolah hubungan mereka uda ga bisa diterusin lagi. Gila, Mami papi mo ceree??!! Oh, No! Belum lagi masalah hutang2 yg ditinggalkan oma yg harus dibayar sama mami padahal ekonomi lg seret. Apalagi masalah kemiskinan di negara kita yg sampe saat ini belum ada solusi yg berarti, gue pun ga bisa berbuat apa2. Hmm, para infotainment juga ikut2an menambah runyam suasana dg melontarkan pertanyaan2 yg ga bs gue jawab..  “uda lulus? kerja dimana sekarang?”, “kapan nikah?”, “denger2 lu ada fair ya sm dia?”, “Ya ampun, lu jadi selingkuhan?”, “eh, sapi lu uda beranak belum?”, “kemarin ada ayam tetangga yg terbunuh katanya gara2 lu ya??”. Aaaaarrgghhh... bangke lu semua!!  Bahkan sampe2 gue ga bisa netesin air mata, bingung mo ngapain dan sempet ngelirik botol baygon *kirain botol kecap*. Akhirnya gue milih nongkrong di jamban berminggu-minggu. Halah lebay, ga sampe segitunya kali... Abaikan!

Galau? Wajar bgt kok, itu adalah salah satu siklus kehidupan. Yang ga wajar tu galau yg berlarut-larut, ga bisa move on! Ok, boleh galau tapi jangan kelamaan ya apalagi sampe nyebarin virus ke lainnya.
Next...

Dengan sisa waktu yg kita punyai sebaiknya digunakan sebaik2nya. Masih banyak kok hal2 indah lainnya, jika kamu mau. Ngapain juga musti larut dlm kegalauan. Orang yang cukup menyayangi dirinya sendiri, akan mengikhlaskan masa lalunya, karena lebih mencintai masa depannya #pemulihanjiwa.

Folk!
Sebenernya tu kuncinya ada pada diri kamu sendiri bukan orang lain. Percuma, orang di sekitar kamu dukung kamu, eh kamunya ga ada niatan buat move on. Inget! NIAT!! So, sekarang saat ini juga dan jangan ditunda! bergeraklah, action dari diri kamu sendiri. Begitulah kata2 yg sering diucapkan para motivator...
Ok, biar ga gampang galau, coba deh folo beberapa akun ini:
@pemulihanjiwa @TweetHEBAT @MotivationWords @MotivaTweet @SemangatPositif @pepatah @kata2bijak @ipphoright
Kata2nya memotivasi bgt!
Atau kunjungi juga: http://saptuari.blogspot.com/
kisah2nya inspiratif!

Thank’s, dg membaca blog ini kamu telah membantu usaha memberantas kegalauan. Yuk, bersama2 kita berantas segala bentuk kegalauan di dunia ini! Ahahahaaa... :D #apasih

Minggu, 02 Oktober 2011

Lolly

Hujan mengguyur sabtu malam itu, tergopoh-gopoh kuberlari melewati trotoar tepi pertokoan.Tak bawa payung, kutelungkupkan jaketku tuk melindungi kepalaku. Dengan menggenggam dua buah lolly di tanganku.

Membawa secercah harapan, kumenerobos dinginnya malam. Menepis kerinduan yang mencandu di dada. Kukembangkan senyumku, terbayang menikamti lolly yang kubawa ini bersamamu.

Nafasku terengah-engah. Sampailah ku ke tempat kau berada. Namun disana kudapati kau gantung lolly yang tlah kuberikan. Sementara kau menikamti lolly lain bersamanya. Lolly yang kugenggam seketika jatuh dan patah.

Waktu yang sangat tepat. Saat kumulai mendekat, perlahan kau menjauh. Aku hanya tertunduk malas tuk berkata. Kuraih kembali kepingan lolly yang basah terguyur hujan. Akupun melangkah berbalik arah.

Langkahku tak terarah dan kubiarkan tubuhku terguyur oleh hujan. Hingga kakiku mulai lelah melangkah. Aku pun berteduh di depan sebuah toko permen yang sudah tutup. Kupeluk lututku menahan rasa kelu. Kurasakan lelehan air yang menghangat membasahi pipiku yang beku.

Lolly yang kini kugenggam patah berkeping-keping. Tak kan bisa kunikmati bersama lainnya. Kuterduduk di bawah cahaya lampu yang temaram dan kunikamti lolly yang tlah patah itu. Sendiri...

Sabtu, 01 Oktober 2011

Tak Ingin Jatuh (the last)

1 Oktober, peralatan medis itu akan dilepas...

Angin bertiup tak terlalu kencang. Noktah-noktah kelap kelip bercahaya mewarnai langit malam ini. Tampak sekelompok pengamen jalanan menghampiri tempatku bersila. Dinyanyikannya tembang jawa campur sari diiringi alat musik seadanya. Semua tampak normal. Di kedai kopi di pinggiran jalan, kunikmati kopi panas bersama kawan-kawanku. Sengaja kuhabiskan malam ini bersama mereka. Benar-benar kunikmati malam ini. Kupersembahkan tawa dan canda dengan tulus buat mereka dan tak kan kusia-siakan moment yang mengasyikkan ini.

Entahlah, ini sebuah kesempatan kedua atau kesempatan terakhir buatku. Yang jelas aku ingin memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya. Tak ada kata yang bisa kuucap selain kata maaf dan terima kasih bagi orang-orang yang pernah mewarnai kehidupanku.

Sebelum ku kembali ke tengah-tengah keluargaku, aku menyempatkan tuk bertemu kekasihku. Mm..entahlah apa dia masih menganggapku demikian. Sayang...tak perlu kau jelaskan apa-apa padaku, aku memang tak tau dan aku juga tak mau tau. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu. Kupeluk dia, dan mungkin tuk terakhir kalinya. Lalu kubisikkan kata maaf dan terima kasih padanya. Pertemuan yang singkat, namun kuharap bisa menjelaskan semuanya.

Di rumah, seperti biasa. Mami, papi dan aku bercengkerama di ruang tengah dan sesekali mengomentari acara di televisi hingga sore menjelang. Tampak wajar, tak ada hal yang berbeda. Lalu aku berinisiatif membersihkan seluruh isi rumah setelah itu. Suatu hal yang benar-benar jarang kulakukan. Mungkin tampak aneh, tapi papi & mami terlihat senang sekali. Aku pun tersenyum bangga. :)

Menjelang petang, kukemasi seluruh barang-barangku. Tidak..aku tidak akan membawa pergi barang-barangku, aku juga tidak akan kemana-mana. Aku hanya tidak ingin membuat mereka repot membereskan perkakasku saja. Pernah kubertanya pada seseorang, apa yang mebuatmu bersedih sepeninggal orang yang kamu kasihi? Dia menjawab, saat kukemasi barang-barang miliknya. Setiap melihat barang miliknya akan mengingatkanku dan meneteskan air mataku. Maka, aku pun tak ingin membuat orang di sekitarku merasa demikian.

Melewati tengah malam, semuanya sudah beres kukemasi. Sempat kukirim pesan singkat buat kakakku tersayang bahwa aku sungguh menyayanginya. Lalu, kuhampiri kamar papi mami yang tak terkunci itu. Kulihat mereka sedang terlelap nyenyak. Kukecup dahi papi dan mami lalu kubisikkan I love you... :)

Huahh...tinggal rasa lelah dan kantuk yang kurasa. Aku semakin tak kuat menahan rasa kantuk, tubuhku pun semakin terasa dingin. Selimut yang menyelimutiku sepertinya tak mampu menahan hawa dingin ini. Sekarang, kupasrahkan sisa waktuku kepada yang kuasa...

Maaf. Aku tak mampu melanjutkan cerita ini, sudah bukan kuasaku lagi. Sekian. :)


Jumat, 30 September 2011

Tak Ingin Jatuh (part 3)

Aku bagaikan ada di saat yang terendah
Menjadi bagian kisah terhempas dari cinta
Tersiksa cintamu yang tlah dinikmati orang lain
Menjadi bagian tawa dan cemooh semua orang

Dengarlah lagu dari orang yang tak mau putus asa
Dengarlah lagu dari orang yang tak ingin dilupakan

Menepis hari yang sedih tak membuatku lupa akan arti harga diri
Caci makilah atau kau buat ku tersenyum tuk hadapi kenyataan

Angkat kepala yang tertunduk malu terasa berat
Melawan sendiri arus kemenangan orang lain

Menepis hari yang sedih bagaikan berdiri di tepi jurang batinku
Doronglah aku atau kau raih tangan ini tuk hadapi kenyataan

“Tak Ingin Dilupakan” – Dirly



September dan sesuatu......

Entahlah...September kali ini benar-benar membuat suasana hati & pikranku sedikit terganggu. Rasa gundah, gelisah, muak, galau, kacau, putus asa berkecamuk jadi satu. Inginku berhenti berharap, namun dalam hati aku musti kuat dan ga mudah nyerah dengan keadaan. Aku musti bisa melawan keadaan ini. Yah, hidup memang misteri. Bukan misteri yang harus dipecahkan tapi misteri yang harus dihadapi dan dijalani dengan tulus. Tak kan pernah tau bagaimana akhir yang harus dihadapi nanti. Kesiapan hatilah yang diperlukan dan harus dipersiapkan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Brrrrmmmm....
Suara mobil membuyarkan renunganku. Ya, itu pasti mami dan papi yang datang. Kusongsong kehadiran mereka. Raut muka mereka tampak lesu dan kuyu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Namun, mereka hanya membisu dan berlalu. Tak sepatah kata pun yang bisa kuucapkan. Hanya tanya dalam hati yang mampu kulontarkan.

“Ya, nanti kita ke rumah sakit lagi. Sekarang istirahata aja dulu Mi..”
“Apa keputusan yang kita ambil ini benar Pi?”
“mau bagaimana lagi, ga ada yang bisa kita lakukan selain menanti keajaiban dari Tuhan”

Rumah sakit? Siapa yang sakit? Keputusan apa? Aku semakin bertanya-tanya. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada kakak...

Sore hari...
Mami dan Papi bersiap ke rumah sakit. Aku pun hanya mengekor. Tak ada perbincangan diantara kami sesampainya di rumah sakit. Kami pun menysuri koridor rumah sakit dan berhenti di sebuah kamar.

Dari balik kaca kamar kulihat seseorang terbaring lemah dengan beberapa peralatan medis tertempel di badannya. Oh, kakak..sungguh malang nasibmu. Entahlah apa yang terjadi padamu.
Tunggu! Dia bukan kakak!! Karena kulihat kakak juga baru datang, sepertinya dari bagian administrasi. Kulihat lebih seksama, dia mirip sekali denganku. Siapa dia? Apa aku punya kembaran? Kenapa mami tak pernah memberitahu padaku? Kenapa aku tak pernah mendapat kabar? Aku bingung sekali, banyak tanya bersarang di pikiranku dan membuat kepalaku semakin pusing.

Sayup-sayup terdengar percakapan antara papi dengan seorang dokter dari sebuah ruangan. Aku sempat menguping dari balik pintu.

“Maaf pak, kami sudah tak bisa melakukan apa-apa. Hanya kuasa Tuhan yang bisa memberikan keajaiban. Anak bapak bisa bertahan sampai sekarang karena bantuan peralatan medis”.
“Lalu apa yang bisa saya lakukan Dok?”
“Serahkan saja pada Tuhan. Saya juga tidak tau sampai kapan peralatan medis itu terpasang di tubuh anak bapak”.
“ya, ini juga terkait faktor biaya”
“keputusan berada di tangan Bapak, apa Bapak sudah rela dan ikhlas melepas peralatan medis itu?”
“yah, bagaimana lagi Dok. Saya pasrah saja.”
“Bapak sudah yakin?”
“iya dok”
“besok lusa pukul 09.00 kami akan melepas peralatan medis tersebut...”

Hah? Apa maksudnya? Jika peralatan medis tersebut dilepas, berarti seseorang yang mirip denganku di kamar tadi akan...
Aku pun bergegas menuju kamar tadi, memastikan siapakah dia. Aku pun memberanikan diri mendekati ranjang tempat ia terbaring. Kulihat wajah pucat dengan beberapa selang menempel di tubuhnya. Wajahnya benar-benar mirip denganku, baik postur tubuh dan potongan rambutnya. Kubaca papan yang tertempel di ranjangnya. Tertera nama dan usiaku serta tanggal dia dirawat yaitu sehari setelah aku mengalami kecelakaan yang aneh kala itu. Seketika aku merasakan tubuhku menggigil. Lidahku terasa kelu. Di bawah kakiku seakan ada lautan yang tak berdasar dan siap menyeretku ke dalamnya. Aku tak ingin jatuh....
bersambung... 

Touring Honda BeAT September 2011

Surabaya – Bangil – Batu – Kediri – Nganjuk
 
Sabtu lalu...
Ayeee!! Dapet pesangon!! Lumayan...dari hasil bantu2 orang. Kebetulan salah seorang teman ngajakin main nih. Ayo aja lah, lumayan baru dapet rejeki sekalian buat refreshing juga. Sebenernya ni badan agak cape sih, tapi kalo buat seneng2 kenapa ngga. Mumpung ada kesempatan dan kangen juga uda lama ga mbolang.

motor kita samaan coy!!

Start from Surabaya, harusnya bisa langsung go Malang. Tapi, dasar temen gw yg satu ini sebut saja Nyenk orangnya emang serampangan & agak ceroboh, barang penting yg harusnya dibawa pulang dari kemaren ditinggalin di Surabaya.  Alhasil gw deh yang nganterin ke Bangil. Okelah, mampir dulu ke Bangil skalian sowan ke camer *ups.

Bangil, salah satu daerah yang masih dalam lingkup Kabupaten Pasuruan. Nah, di rumah Nyenk ternyata ada Ema yg uda standbay buat ikutan main. Oke, jadi  gw berangkat dari Bangil ke Malang bertiga. Oh, iya...sarapan dulu sebelum berangkat coy, isi amunisi! Bangil, pasti inget kuliner khas yang satu ini. Hmm... “nasi punel”, menu makanan nasi putih anget mak nyus dengan berbagai lauk antara lain ada cingur bumbu, sate kerang, taburan srundeng, dan satu lauk pilihan bisa ayam, dendeng, daging, hati dll. Ajiibb dah! Pokoknya kalo ke Bangil, mampir dulu buat nyicipin kuliner ini yaa..

Guys, kita ga lewat kota Malang nih! Kita belok kanan langsung ke arah Batu (sambil liat plang ijo penunjuk arah). Yups, ada dua temen lagi (Pang & Rara) yang berangkat dari Kediri. So, kita janjian ketemuan di Jatim Park I. Eh, ternyata...kita nyasar Sodara Sodara!! *wew, bener2 berpetualang nih* padahal dua temen yang dari Kediri tuh uda sampe di lokasi. Hmm...ini gara2 penunjuk arah yang rancu.



Batu, Jatim Park 1...sudah siang rupanya. Perjalanan jadi lama gara2 nyasar & musti puter balik. Ya sudahlah yang penting bisa sampe dengan selamat.

“halo? Pang, lu dimana? Gw uda sampe nih di loket.”
“loket sebelah mana Geck? Gw jg di loket nih”
“ya loket depan, loket mana lagi? Lu di Jatim Park mana sih?”
“Ni gw di Jatim Park 2”
“helooww..lu mau ngapain di sana? Katanya mau teriak2, di situ isinya cuman kebun binatang. Uda, gw tunggu di Jatim Park 1. Jaraknya deket kok dari situ”

Hadehh...giliran uda sampe, ternyata mereka salah lokasi. Tak lama kemudian, akhirnya kita dipertemukan. Bunga2 bertaburan, angin pun bertiup semilir menyejukkan mengiringi pertemuan kita *lebay*. Kita pun bersenang2 di Jatim Park 1, semua arena permainan dicoba satu per satu hingga sore menjelang dan lelah mulai menghampiri.

BNS (Batu Night Spectacular) taman hiburan yang buka sore sampe malem. Gila! Masih mau lanjut main? Mau pulang jam berapa kita? Perjalanan dari Batu ke Kediri kan melewati hutan dan jalanan berliku, ga ada penerangan jalan pula *syerem*. Ya, sudahlah mumpung di sini, gw turuti aja permintaan mereka. Sementara dua yang lainnya (Nyenk & Ema) memilih balik duluan dan menginap di Malang. Wah, gw berada di tempat yang kurang tepat nih. Ni taman hiburan isinya kebanyakan orang berpasang-pasangan. Emang suasananya romantis banget sih, tapi kan kurang cocok buat kita bertiga yang lagi menyandang gelar “Jombloers”. Jadi mupeng kan...

Sudah malam rupanya, kita ga berlama-lama di sana. Selain masih harus melanjutkan perjalanan pulang, kita juga emang kurang cocok berada di sana. Harusnya ni, gw langsung pulang ke Nganjuk. Tapi, tiba2 nyali gw menciut (gw kan nyetir sendiri!). Coz, jalanan bener2 syereemm...persis kaya mimpi gw. Jalanan berkelok nan gelap gulita. Trus gw jatoh ke jurang. Oh, Tuhan..semoga itu tidak terjadi. Ya sudahlah, akhirnya gw ngikut temen gw ke Kediri & pulang ke rumah esok harinya.

Fiuhh...gw bener2 jadi anak jalanan coy! Yaah, meski gw ini anak jalanan & suka keluyuran kemana2 tapi gw masih beriman & bertanggungjawab. Yoyoy!! Menantikan petualangan selanjutnya..
Next Bandung maybe...

Salam Petualang!!

NB: Katanya Pang, dia liat sosok seseorang di hutan, dibalik pohon *padahal suasana sepi bgt & gelap gulita* ngapain juga tuh orang di sana??? o_O