Sesederhana itu....
Minggu pagi, cukup cerah dibanding beberapa hari terakhir yang terlihat muram. Kali ini aku bangun cukup pagi, sehingga ku bisa menghirup udara pagi yang belum tercemar polusi. Entahlah, sebuah hal yang jarang ku lakukan di hari minggu. Sesaat, fikirku terusik oleh mimpiku semalam. Sama sekali tak terbesit dalam benakku. Ah, kamu. Kamu membuat waktuku tersita dengan angan tentangmu.
Drrrtt..drrttt....
Sinyal kuat, seperti ada jaringan khusus yang menghubungkanku denganmu. Kamu pun menelepon, segera.
“Hallo?” sapaku.
“Hey, sudah bangun rupanya?” sahutmu.
“Yeah, ada apa?” tanyaku.
“Umm..may I invite you, come home and we have a breakfast now. How?” kamu menawarkan.
“Mm..boleh.” kebetulan belum sarapan, pikirku. “Okay, see you there” jawabku segera.
“Yes, can’t wait for your coming. See you...”
Tuuutt.....
Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju rumahmu. Bukan karena sarapan yang kamu tawarkan, tapi...entahlah.
Di sebuah rumah, tak terlalu besar namun terasa nyaman dan asri kuberada kini. Kulihat sebuah lukisan mawar putih yang tertempel di dinding ruang tamu. Tak asing bagiku, itu lukisan yang kuantar waktu itu.
“Andai mamah bisa lihat.” katamu, yang juga memperhatikan lukisan yang kupandangi. “Mamah suka sekali mawar putih, so sampai saat ini aku terus merawat taman mawar miliknya.”
Bersyukur, aku masih memiliki Mami dan Papi yang menyayangiku. Sementara kamu, sendiri tanpa Mama yang tlah pergi jauh ke sisi-Nya dan Papa yang tak pernah ada untukmu. Namun, kamu slalu bisa tersenyum. Sekarang, di hadapanku. Ah, harusnya aku banyak belajar darimu.
“Hey, ngelamun!” serumu membuyarkan lamunanku.
“Eh, mana sarapannya? Sudah siap ya? Hehe” sahutku.
Hmm..aroma bawang bombai dan saus tomat mulai tercium. Dua piring spaghetti tersaji di meja makan. Satu hal yang menarik dari kamu, kamu pandai sekali memasak. Ya, suatu keahlian yang tak kupunyai.
“Tenang saja, ga pedes kok. Tanpa saus cabe dan sedikit merica, khusus buat kamu.” terangmu.
“Hehe, tau aja kamu...” sahutku.
Obrolan ringan menyertai sarapan kita. Hingga tak tersisa sedikitpun aku melahap semua makanan yang ada di piringku. Entahlah, sungguh menyenangkan berada di dekatmu. Terasa ringan, seolah tak ada beban yang harus kututupi. Tak ada senyum palsu yang harus kukembangkan.
Sambil menikmati teh manis obrolan santai pun berlanjut ke halaman depan. Aku memilih untuk duduk di ayunan dan sesekali tercium aroma mawar yang terseret angin lembut pagi. Hmm, Beautiful morning!
“Mm..may I ask you?” ujarmu menyela indahnya pagi.
“Apa?” balasku.
“Menurut kamu gimana nih, seseorang musti jadian dulu baru makan bareng, jalan bareng, gandengan tangan, lalu ciuman. Atau sebaliknya. Jalan dulu, makan bareng, gandengan tangan, ciuman lalu jadian?” tanyamu sambil memainkan sebuah karet gelang di tanganmu.
“Tergantung. Kondisional sih, tapi aku pilih opsi yang kedua” jawabku.
“Why?”
“Kurasa, sesuatu itu perlu proses. After that all process has been done...ya, tinggal nentuin aja mau dibawa kemana. Itu pun tergantung ada tidaknya chemistry antara mereka, you know lah”
“Hmm..berarti ada satu hal yang belum aku lakukan” kamu sempat bergumam sendiri, dan tak sengaja aku mendengar gumamanmu yang terdengar jelas di telingaku.
“Apa?” tanyaku padamu.
Kamu hanya tersenyum penuh makna. Lalu, kamu mendekatkan wajahmu. Entah kenapa aku hanya berdiam diri tak bereaksi. Pipiku terasa panas, menanti dan menerka-nerka apa yang akan kamu lakukan dan...secara lembut bibirmu menyentuh bibirku.
End :)
*inspiration song: "Hanya Kau yang Bisa" by Easy Tiger
didedikasikan kepada seseorang yang bisa buatmu kembali tertawa & lupakan semua luka yang ada
Let's listen & Happy wathcing! ^^,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar