Minggu, 25 Desember 2011

KARET GELANG (part 3)



Yang spesial berkaret dua...

Malam ini, sedikit penat kurasa. Rintik hujan pun sudah letih menangis rupanya. Berpeluk jaket kumelangkah menuju ke kawasan pedagang kaki lima yang tak jauh dari gallery tempatku berkarya. Jajanan malam nampak melambai-lambai, tak sabar ingin segera sampai di tangan pembeli. Melihat banyak makanan, sontak saja perut semakin berontak, berdemo kepadaku meminta jatah makan segera diturunkan.

Drrtt..drrrtt...

“Halo chiind! Lagi dimenong? Pulang cepet ga? Adduuhh...rasanya aku mau matii niih...cepetan pulang yah, aku nitip sesuatu!!” suara lebay dari seberang.

“Iya, bentar lagi pulang. Ni mau cari makan dulu. Kenapa sih? Heboh banget!”

Nah, kebetulan tuh. Aku bungkusin ya, nasi goreng pedas seperti biasa. Kamu makannya di rumah aja, biar ga kelamaan aku nunggunya” 

Ternyata si cowok feminin ini sudah balik dari kampung rupanya. Syukur deh, jadi ada yang bantu urus-urus rumah besok.

“Busyet dah ni orang! Minta tolong yang bagusan dikit napa?” jawabku sedikit dongkol.

“Ya, maap chiind, uda kelaperan mampus nih...” terdengar nada memelas.

“Iya, iya...” jawabku malas.

“Sekalian martabak manis ya, coklat keju. Tengkyuu...”

Tuuut...tuuut....

Setiap hari, hampir setiap malam berkawan dengan hujan. Yah, memang sedang musimnya, namun cukup membantu menyejukkan kota pahlawan ini. Hmm, aroma tanah basah karena hujan ditambah aroma vanili dari penjual martabak membuatku terlena karenanya. Sembari menunggu martabak manis matang, mataku menyapu seluruh kawasan PKL. Terlihat beberapa pasangan muda-mudi nampak asyik menikmati jajanan malam. Ah ya, ini sabtu malam. So what? nothing.. 

Tak jauh dariku, di sela-sela mereka kulihat kamu. Ya, kurasa itu kamu. Tak begitu menghiraukanmu, lalu aku pun menegaskan langkahku menuju pedagang penjual nasi goreng. Aku dan kamu berpapasan.

“Hai!” sapamu.

“Ya..” balasku sedikit ragu.

“Thank’s ya, barangnya sudah diantar sampai rumah.” katamu sambil memberikan kantong plastik berisi dua bungkus makanan kepadaku.

“Apa ini?” tanyaku sedikit bingung.

“Nasi goreng, yang spesial yang karetnya dua itu buat kamu. Gratis.” jelasmu.

“Ng...” belum sempat ku lontarkan pertanyaan lagi buru-buru kamu menimpali. 

Sorry, aku ga sengaja dengar waktu kamu memesan di pedagang nasgor tadi.”

“Owh...thank’s ya” ucapku sedikit malu.

Kamu pun melangkah pergi, hendak menyeberangi jalan. Namun, refleks ku menggenggam lenganmu dan mengikuti langkahmu. Sesampainya di bibir jalan, aku tersadar dan perlahan melepas genggamanku.

“Sorry...” kataku dan kamu hanya tersenyum padaku. “Ng...aku agak takut kalo nyebrang sendirian. Hehe..”

“Ga papa kok, mungkin lain kali bisa lebih lama lagi” katamu. “Take care ya!” kamu pun beranjak pergi. Namun tak lama, kamu berbalik dan berteriak padaku.

 “Hey, lukisanmu jelek! sama sekali ga mirip sama mamah!” teriakmu sambil berlalu.

Aku hanya terdiam, berdiri dan masih menatap punggungmu yang kian menjauh.

bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar