Aku bagaikan ada di saat yang terendah
Menjadi bagian kisah terhempas dari cinta
Tersiksa cintamu yang tlah dinikmati orang lain
Menjadi bagian tawa dan cemooh semua orang
Dengarlah lagu dari orang yang tak mau putus asa
Dengarlah lagu dari orang yang tak ingin dilupakan
Menepis hari yang sedih tak membuatku lupa akan arti harga diri
Caci makilah atau kau buat ku tersenyum tuk hadapi kenyataan
Angkat kepala yang tertunduk malu terasa berat
Melawan sendiri arus kemenangan orang lain
Menepis hari yang sedih bagaikan berdiri di tepi jurang batinku
Doronglah aku atau kau raih tangan ini tuk hadapi kenyataan
“Tak Ingin Dilupakan” – Dirly
September dan sesuatu......
Entahlah...September kali ini benar-benar membuat suasana hati & pikranku sedikit terganggu. Rasa gundah, gelisah, muak, galau, kacau, putus asa berkecamuk jadi satu. Inginku berhenti berharap, namun dalam hati aku musti kuat dan ga mudah nyerah dengan keadaan. Aku musti bisa melawan keadaan ini. Yah, hidup memang misteri. Bukan misteri yang harus dipecahkan tapi misteri yang harus dihadapi dan dijalani dengan tulus. Tak kan pernah tau bagaimana akhir yang harus dihadapi nanti. Kesiapan hatilah yang diperlukan dan harus dipersiapkan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.
Brrrrmmmm....
Suara mobil membuyarkan renunganku. Ya, itu pasti mami dan papi yang datang. Kusongsong kehadiran mereka. Raut muka mereka tampak lesu dan kuyu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Namun, mereka hanya membisu dan berlalu. Tak sepatah kata pun yang bisa kuucapkan. Hanya tanya dalam hati yang mampu kulontarkan.
“Ya, nanti kita ke rumah sakit lagi. Sekarang istirahata aja dulu Mi..”
“Apa keputusan yang kita ambil ini benar Pi?”
“mau bagaimana lagi, ga ada yang bisa kita lakukan selain menanti keajaiban dari Tuhan”
Rumah sakit? Siapa yang sakit? Keputusan apa? Aku semakin bertanya-tanya. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada kakak...
Sore hari...
Mami dan Papi bersiap ke rumah sakit. Aku pun hanya mengekor. Tak ada perbincangan diantara kami sesampainya di rumah sakit. Kami pun menysuri koridor rumah sakit dan berhenti di sebuah kamar.
Dari balik kaca kamar kulihat seseorang terbaring lemah dengan beberapa peralatan medis tertempel di badannya. Oh, kakak..sungguh malang nasibmu. Entahlah apa yang terjadi padamu.
Tunggu! Dia bukan kakak!! Karena kulihat kakak juga baru datang, sepertinya dari bagian administrasi. Kulihat lebih seksama, dia mirip sekali denganku. Siapa dia? Apa aku punya kembaran? Kenapa mami tak pernah memberitahu padaku? Kenapa aku tak pernah mendapat kabar? Aku bingung sekali, banyak tanya bersarang di pikiranku dan membuat kepalaku semakin pusing.
Sayup-sayup terdengar percakapan antara papi dengan seorang dokter dari sebuah ruangan. Aku sempat menguping dari balik pintu.
“Maaf pak, kami sudah tak bisa melakukan apa-apa. Hanya kuasa Tuhan yang bisa memberikan keajaiban. Anak bapak bisa bertahan sampai sekarang karena bantuan peralatan medis”.
“Lalu apa yang bisa saya lakukan Dok?”
“Serahkan saja pada Tuhan. Saya juga tidak tau sampai kapan peralatan medis itu terpasang di tubuh anak bapak”.
“ya, ini juga terkait faktor biaya”
“keputusan berada di tangan Bapak, apa Bapak sudah rela dan ikhlas melepas peralatan medis itu?”
“yah, bagaimana lagi Dok. Saya pasrah saja.”
“Bapak sudah yakin?”
“iya dok”
“besok lusa pukul 09.00 kami akan melepas peralatan medis tersebut...”
Hah? Apa maksudnya? Jika peralatan medis tersebut dilepas, berarti seseorang yang mirip denganku di kamar tadi akan...
Aku pun bergegas menuju kamar tadi, memastikan siapakah dia. Aku pun memberanikan diri mendekati ranjang tempat ia terbaring. Kulihat wajah pucat dengan beberapa selang menempel di tubuhnya. Wajahnya benar-benar mirip denganku, baik postur tubuh dan potongan rambutnya. Kubaca papan yang tertempel di ranjangnya. Tertera nama dan usiaku serta tanggal dia dirawat yaitu sehari setelah aku mengalami kecelakaan yang aneh kala itu. Seketika aku merasakan tubuhku menggigil. Lidahku terasa kelu. Di bawah kakiku seakan ada lautan yang tak berdasar dan siap menyeretku ke dalamnya. Aku tak ingin jatuh....bersambung...





