Jumat, 30 September 2011

Tak Ingin Jatuh (part 3)

Aku bagaikan ada di saat yang terendah
Menjadi bagian kisah terhempas dari cinta
Tersiksa cintamu yang tlah dinikmati orang lain
Menjadi bagian tawa dan cemooh semua orang

Dengarlah lagu dari orang yang tak mau putus asa
Dengarlah lagu dari orang yang tak ingin dilupakan

Menepis hari yang sedih tak membuatku lupa akan arti harga diri
Caci makilah atau kau buat ku tersenyum tuk hadapi kenyataan

Angkat kepala yang tertunduk malu terasa berat
Melawan sendiri arus kemenangan orang lain

Menepis hari yang sedih bagaikan berdiri di tepi jurang batinku
Doronglah aku atau kau raih tangan ini tuk hadapi kenyataan

“Tak Ingin Dilupakan” – Dirly



September dan sesuatu......

Entahlah...September kali ini benar-benar membuat suasana hati & pikranku sedikit terganggu. Rasa gundah, gelisah, muak, galau, kacau, putus asa berkecamuk jadi satu. Inginku berhenti berharap, namun dalam hati aku musti kuat dan ga mudah nyerah dengan keadaan. Aku musti bisa melawan keadaan ini. Yah, hidup memang misteri. Bukan misteri yang harus dipecahkan tapi misteri yang harus dihadapi dan dijalani dengan tulus. Tak kan pernah tau bagaimana akhir yang harus dihadapi nanti. Kesiapan hatilah yang diperlukan dan harus dipersiapkan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Brrrrmmmm....
Suara mobil membuyarkan renunganku. Ya, itu pasti mami dan papi yang datang. Kusongsong kehadiran mereka. Raut muka mereka tampak lesu dan kuyu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Namun, mereka hanya membisu dan berlalu. Tak sepatah kata pun yang bisa kuucapkan. Hanya tanya dalam hati yang mampu kulontarkan.

“Ya, nanti kita ke rumah sakit lagi. Sekarang istirahata aja dulu Mi..”
“Apa keputusan yang kita ambil ini benar Pi?”
“mau bagaimana lagi, ga ada yang bisa kita lakukan selain menanti keajaiban dari Tuhan”

Rumah sakit? Siapa yang sakit? Keputusan apa? Aku semakin bertanya-tanya. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada kakak...

Sore hari...
Mami dan Papi bersiap ke rumah sakit. Aku pun hanya mengekor. Tak ada perbincangan diantara kami sesampainya di rumah sakit. Kami pun menysuri koridor rumah sakit dan berhenti di sebuah kamar.

Dari balik kaca kamar kulihat seseorang terbaring lemah dengan beberapa peralatan medis tertempel di badannya. Oh, kakak..sungguh malang nasibmu. Entahlah apa yang terjadi padamu.
Tunggu! Dia bukan kakak!! Karena kulihat kakak juga baru datang, sepertinya dari bagian administrasi. Kulihat lebih seksama, dia mirip sekali denganku. Siapa dia? Apa aku punya kembaran? Kenapa mami tak pernah memberitahu padaku? Kenapa aku tak pernah mendapat kabar? Aku bingung sekali, banyak tanya bersarang di pikiranku dan membuat kepalaku semakin pusing.

Sayup-sayup terdengar percakapan antara papi dengan seorang dokter dari sebuah ruangan. Aku sempat menguping dari balik pintu.

“Maaf pak, kami sudah tak bisa melakukan apa-apa. Hanya kuasa Tuhan yang bisa memberikan keajaiban. Anak bapak bisa bertahan sampai sekarang karena bantuan peralatan medis”.
“Lalu apa yang bisa saya lakukan Dok?”
“Serahkan saja pada Tuhan. Saya juga tidak tau sampai kapan peralatan medis itu terpasang di tubuh anak bapak”.
“ya, ini juga terkait faktor biaya”
“keputusan berada di tangan Bapak, apa Bapak sudah rela dan ikhlas melepas peralatan medis itu?”
“yah, bagaimana lagi Dok. Saya pasrah saja.”
“Bapak sudah yakin?”
“iya dok”
“besok lusa pukul 09.00 kami akan melepas peralatan medis tersebut...”

Hah? Apa maksudnya? Jika peralatan medis tersebut dilepas, berarti seseorang yang mirip denganku di kamar tadi akan...
Aku pun bergegas menuju kamar tadi, memastikan siapakah dia. Aku pun memberanikan diri mendekati ranjang tempat ia terbaring. Kulihat wajah pucat dengan beberapa selang menempel di tubuhnya. Wajahnya benar-benar mirip denganku, baik postur tubuh dan potongan rambutnya. Kubaca papan yang tertempel di ranjangnya. Tertera nama dan usiaku serta tanggal dia dirawat yaitu sehari setelah aku mengalami kecelakaan yang aneh kala itu. Seketika aku merasakan tubuhku menggigil. Lidahku terasa kelu. Di bawah kakiku seakan ada lautan yang tak berdasar dan siap menyeretku ke dalamnya. Aku tak ingin jatuh....
bersambung... 

Touring Honda BeAT September 2011

Surabaya – Bangil – Batu – Kediri – Nganjuk
 
Sabtu lalu...
Ayeee!! Dapet pesangon!! Lumayan...dari hasil bantu2 orang. Kebetulan salah seorang teman ngajakin main nih. Ayo aja lah, lumayan baru dapet rejeki sekalian buat refreshing juga. Sebenernya ni badan agak cape sih, tapi kalo buat seneng2 kenapa ngga. Mumpung ada kesempatan dan kangen juga uda lama ga mbolang.

motor kita samaan coy!!

Start from Surabaya, harusnya bisa langsung go Malang. Tapi, dasar temen gw yg satu ini sebut saja Nyenk orangnya emang serampangan & agak ceroboh, barang penting yg harusnya dibawa pulang dari kemaren ditinggalin di Surabaya.  Alhasil gw deh yang nganterin ke Bangil. Okelah, mampir dulu ke Bangil skalian sowan ke camer *ups.

Bangil, salah satu daerah yang masih dalam lingkup Kabupaten Pasuruan. Nah, di rumah Nyenk ternyata ada Ema yg uda standbay buat ikutan main. Oke, jadi  gw berangkat dari Bangil ke Malang bertiga. Oh, iya...sarapan dulu sebelum berangkat coy, isi amunisi! Bangil, pasti inget kuliner khas yang satu ini. Hmm... “nasi punel”, menu makanan nasi putih anget mak nyus dengan berbagai lauk antara lain ada cingur bumbu, sate kerang, taburan srundeng, dan satu lauk pilihan bisa ayam, dendeng, daging, hati dll. Ajiibb dah! Pokoknya kalo ke Bangil, mampir dulu buat nyicipin kuliner ini yaa..

Guys, kita ga lewat kota Malang nih! Kita belok kanan langsung ke arah Batu (sambil liat plang ijo penunjuk arah). Yups, ada dua temen lagi (Pang & Rara) yang berangkat dari Kediri. So, kita janjian ketemuan di Jatim Park I. Eh, ternyata...kita nyasar Sodara Sodara!! *wew, bener2 berpetualang nih* padahal dua temen yang dari Kediri tuh uda sampe di lokasi. Hmm...ini gara2 penunjuk arah yang rancu.



Batu, Jatim Park 1...sudah siang rupanya. Perjalanan jadi lama gara2 nyasar & musti puter balik. Ya sudahlah yang penting bisa sampe dengan selamat.

“halo? Pang, lu dimana? Gw uda sampe nih di loket.”
“loket sebelah mana Geck? Gw jg di loket nih”
“ya loket depan, loket mana lagi? Lu di Jatim Park mana sih?”
“Ni gw di Jatim Park 2”
“helooww..lu mau ngapain di sana? Katanya mau teriak2, di situ isinya cuman kebun binatang. Uda, gw tunggu di Jatim Park 1. Jaraknya deket kok dari situ”

Hadehh...giliran uda sampe, ternyata mereka salah lokasi. Tak lama kemudian, akhirnya kita dipertemukan. Bunga2 bertaburan, angin pun bertiup semilir menyejukkan mengiringi pertemuan kita *lebay*. Kita pun bersenang2 di Jatim Park 1, semua arena permainan dicoba satu per satu hingga sore menjelang dan lelah mulai menghampiri.

BNS (Batu Night Spectacular) taman hiburan yang buka sore sampe malem. Gila! Masih mau lanjut main? Mau pulang jam berapa kita? Perjalanan dari Batu ke Kediri kan melewati hutan dan jalanan berliku, ga ada penerangan jalan pula *syerem*. Ya, sudahlah mumpung di sini, gw turuti aja permintaan mereka. Sementara dua yang lainnya (Nyenk & Ema) memilih balik duluan dan menginap di Malang. Wah, gw berada di tempat yang kurang tepat nih. Ni taman hiburan isinya kebanyakan orang berpasang-pasangan. Emang suasananya romantis banget sih, tapi kan kurang cocok buat kita bertiga yang lagi menyandang gelar “Jombloers”. Jadi mupeng kan...

Sudah malam rupanya, kita ga berlama-lama di sana. Selain masih harus melanjutkan perjalanan pulang, kita juga emang kurang cocok berada di sana. Harusnya ni, gw langsung pulang ke Nganjuk. Tapi, tiba2 nyali gw menciut (gw kan nyetir sendiri!). Coz, jalanan bener2 syereemm...persis kaya mimpi gw. Jalanan berkelok nan gelap gulita. Trus gw jatoh ke jurang. Oh, Tuhan..semoga itu tidak terjadi. Ya sudahlah, akhirnya gw ngikut temen gw ke Kediri & pulang ke rumah esok harinya.

Fiuhh...gw bener2 jadi anak jalanan coy! Yaah, meski gw ini anak jalanan & suka keluyuran kemana2 tapi gw masih beriman & bertanggungjawab. Yoyoy!! Menantikan petualangan selanjutnya..
Next Bandung maybe...

Salam Petualang!!

NB: Katanya Pang, dia liat sosok seseorang di hutan, dibalik pohon *padahal suasana sepi bgt & gelap gulita* ngapain juga tuh orang di sana??? o_O

Selasa, 27 September 2011

RANDOM

Yoyoy!! sembari nunggu kelanjutan cerita "Tak Ingin Jatuh" yang lagi ane tulis dan gak kelar2 ini, ane mw nulis serampangan dulu dah. Otak masih buntu nih, cerita udah ada tinggal nyusunnya aja sih. Ya..inspirasinya tu berdasarkan potongan2 mimpi yg ane dapet semalem.
udah ah, daripada bingung mo nulis apaan, ane nulis beberapa lirik lagu yg sedikit mengusik otak sarap ane belakangan ini (jadi tambah kusut dah!).


"Membekas di Hati" - Laluna

Perpisahan ini bukanlah pilihanku
Kau yang pergi meninggalkan aku
Pernah aku memuja dirimu
Mencintamu setulus hatiku

Kau yang slalu aku puja
Ternyata menduakan aku
Mengkhianati cintaku
Tak pernah ku membayangkan
Kau kan melukai hatiku
Hancurkan mimpiku tinggalkan aku

Mungkin aku bukanlah pilihanmu
Tak seperti yang kau mau

Sakit yang kurasa
Takkan mudah sirna
Membekas di hati ku terluka
Entah sampai kapan
Ku harus bertahan
Melawan sedihku sendiri

sumpah! ni lagu bikin nyesek abis...
ya sudahlah, buat yg ngalamin kejadian kaya lirik lagu di atas...move on guys!! ga ada yg lebih indah selain menyayangi dirimu sendiri..Ok, lupakan!!
next lirik -->


"Sahabat jadi Cinta" - Zigas

Kuhantarkan bak di pelataran
Hati yang temaran
Matamu juga mata mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang

"Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta"

Tak bisa hatiku merapikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya

Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa teruskan
Persahabatan jadi cinta

Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapakah kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan

Yoyoy!! ni lagu buat siapa hayooo?? elu kan kaga punya sahabat yoy! sahabat lu kan cuma ada Gecko sama Tokrit... nah lo, masa lu jatuh cinta sama kita2 sih? lu kan cuma cinta sama diri lu sendiri..hehehe..
wah, wah...pokoknya ane cuma pengen nulis aja. whatever u say!! what the hell..!!
I just interest that lyric, terutama pas bagian yg ane kasih tanda kutip...

Jumat, 23 September 2011

'Blue BeAt' AG 3877 WL


Dear Blue BeAt...
Skuterku tercinta.
Tak terasa, empat tahun sudah kita bersama
Kau slalu setia menemani hari-hariku
Menemani kebusukkan2 hidup yang kujalani
Peluh, panas, angin, hujan menyertai kebersamaan kita
Namun kau tak pernah letih mengantar kemana ku pergi
Kupacu kau memenuhi nafsu liarku yang tak pernah puas menaklukkan jalanan
berlari dari satu daerah ke daerah lain berkilo2 meter adanya
menyusuri gang2 sempit antara mobil2, bersaing dengan bus & truk
bahkan dari makhluk2 sejenismu

Dear Blue BeAt...
besok kita kan berpetualang lagi
kuatkan dirimu, begitu pula dengan diriku
meski raga ini tlah lelah
meski jiwa ini tak lagi utuh
namun jangan pernah menyerah menaklukkan jalanan
resiko terburuk pun musti kita hadapi bersama
aku kan berusaha menjadi rider yg baik
itu tak kan lepas dari dukunganmu

Dear Blue BeAt...
Sorry... 
Dear Blue BeAT

Tak Ingin Jatuh (part 2)



Tiba-tiba semua orang menghilang. Tak ada yang peduli padaku....

Sesuatu mencengkeram lenganku, dan menghempaskan ku entah kemana. Aku tak berani membuka mata, angin kencang menampar-nampar mukaku. Setelah mereda, kuberanikan diri tuk membuka mata. Silau cahaya terang tepat berada di depanku, secara refleks aku pun menyipitkan mata. Cahaya itu terlalu silau. Ku tajamkan pendengaranku, seolah aku berada di tengah keramaian. Lalu lalang suara kendaraan dan bisingnya klakson menyadarkanku. Ya, aku berada di tengah jalan raya. Nampak sebuah truk tronton bermuatan berat melaju ke arahku, lampunya menyorot tepat ke mukaku. Yah, kurasa aku tak mampu menghindar lagi. Aku terduduk, kututup mata dan telingaku. Berharap ada sesuatu yang menerbangkanku dari situ.

Beberapa saat kemudian aku tersadar. Perlahan kubuka mata dan telingaku, suara bising dan keramaian itu sudah menghilang. Kini aku berada di sebuah taman yang tak asing bagiku. Aku terbaring di bawah pohon akasia. Tubuhku terasa lemas seolah tenagaku habis terkuras. Samar-samar kudengar sebuah percakapan tak jauh dari tempatku terbaring. Nampaknya suara itu tak asing bagiku, lalu kuberanikan diri mendekati ke arah sumber suara itu.

Gelak tawa terdengar. Nampak sekelompok pemuda bercakap dengan logat jawa sedang bermain sanggong. Mereka, aku mengenalnya. Salah satunya adalah kekasihku yang sudah dua minggu ini tak pernah menghubungiku. Syukurlah, dia terlihat sehat dan bergaul dengan teman-temannya. Aku mencoba memanggilnya, namun suaraku tercekat. Tak ada yang keluar dari bibirku. Percuma...mereka tak kan mendengarku. Sudahlah, mungkin dia sudah tak peduli lagi padaku. Aku pun memutuskan tuk meninggalkan tempat itu.

Aku berlari dengan sekuat tenaga menuju jalan raya. Ada sebuah bus yang berhenti tak jauh dari pandanganku sedang menunggu penumpang. Ya, aku akan pulang. Namun betapa bodohnya aku. Tak sepeser uang pun yang kubawa dan aku juga tak membawa alat komunikasi. Namun aku tetap menaiki bus itu. Hmm...lengang, hanya ada 4 penumpang. Semua terlihat diam dan membisu. Kupilihlah duduk di deretan nomor dua dari depan. Tak lama kemudian, bus malam yang kutumpangi melaju dengan pesat.

Tak terasa, serasa hanya sekejap bus melaju namun sudah berhenti. Aku menengok keluar dari balik kaca, ternyata bus berhenti tepat di depan rumahku. Aku pun segera turun. Astaga! Pak kondektur lupa menarik tiket padaku. Yah, sudahlah...mungkin sudah tau kalo aku tak punya uang sepeser pun.

Dini hari, rumah tampak sepi. Kuketuk pintu depan, namun tak ada sahutan. Kutengok garasi, ternyata tak ada mobil yang terparkir. Itu artinya orang rumah sedang pergi. Aku masuk lewat pintu samping yang sepertinya tidak terkunci. Berhasil! Aku berhasil masuk rumah. Aku tak kuat menahan lelah yang menggelayutiku. Aku pun segera menuju kamarku, dan kurebahkan tubuhku. Dalam hati kubertanya, kemanakah keluargaku, saudaraku, dan teman-temanku. Tak adakah yang mencari diriku?

Hah, aku benar-benar bingung dengan keadaan ini. Tiba-tiba semua orang menghilang. Apa benar-benar tak ada yang peduli padaku? Apakah aku ini sudah dianggap mati?


bersambung...

Senin, 19 September 2011

Tak Ingin Jatuh (part 1)

Twilight 'Bukit Bintang'


Saya jatuh ke jurang, motor rusak parah. Saya tidak merasakan sakit sedikitpun *...dan saya sudah melayang2 di udara*

Senja...

Semburat oranye tersirat melukis langit sore itu. Kabut mulai turun, hawa dingin pun kian memeluk tubuhku namun tak menyurutkan niatku tuk menyusuri jalanan berkelok itu. Jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas dari arah berlawanan. Samar-samar alunan adzan berkumandang menggema dari balik gunung. Belum ada separo perjalanan menuju tempat yang akan kukunjungi, kuputuskan tuk terus melanjutkan perjalanan tanpa istirahat. Langit pun mulai gelap, tak ada penerangan jalan selain dari sorot skuterku. Aku mulai menyetir dengan insting, samar-samar... karena penglihatanku sudah mulai kabur. Sebenarnya penat yang kurasa, namun tak kuhiraukan lagi. Hanya ada satu di benakku, aku ingin segera melihat mereka. Mereka yang sangat mengasihiku.

Jalanan semakin sepi, tak ada kendaraan yang melintas dari arah berlawanan. Hanya ada sebuah mobil pick-up yang berada tak jauh di depanku. Lintasan mulai menikung, mobil  pick-up yang berada di depan ku pun kian menjauh dan tak nampak lagi karena terhalang oleh kabut. Tiba-tiba gerimis, jalanan yang kulalui sedikit licin. Aku hanya perlu berhati-hati saat melintas di tikungan. Namun secara tak terduga kemudiku sedikit goyah ketika aku melaju cukup kencang. Di depanku nampak sebuah tikungan yang cukup tajam. Aku tak mampu lagi mengendalikan skuterku, dengan sekejap aku terpelanting menuju jurang yang membentang di hadapanku.

Seperti mendapat shock terapi. Otakku berhenti bekerja, tak ada yang bisa kulakukan. Kulihat skuterku terjatuh jauh ke bawah sana. Sekilas ku memandang ke bawah, nampak sebuah danau yang cukup luas. Tanganku masih bertahan pada sebuah batu yang sempat ku gapai. Inginku ikut terjun saja mengikuti skuterku dan jatuh ke danau, namun aku pun tersadar aku sama sekali tak bisa berenang. Itu sama saja dengan bunuh diri. Ataukah aku tetap bertahan dan kembali ke atas, dan itu tak kan mungkin dilakukan karena lenganku sudah mati rasa.

Aneh, perlahan tubuhku terangkat dengan sendrinya. Terasa ringan... aku semakin menjauhi tempat ku bertahan tadi. Otakku benar-benar tak mampu lagi bekerja, secara logika seharusnya jatuh dari ketinggian lebih dari 5 meter tubuhku sudah babak belur penuh luka. Namun aku tak merasakan sakit sedikitpun.

Bersambung....