'Desember Kelabu' begitu kata Mbak Yuni Sarah. Desember, tak lepas dari hujan. Hujan, merupakan sebuah berkah... begitu kataku dan begitu pula Tuhan akan janjinya. Setiap tetesannya selalu menyiratkan cerita. Mengaburkan potret kenangan yang pernah hinggap di benak kita. Setiap manusia pasti memiliki ceritanya sendiri...tentang hujan.
Hmm..lagi hujan, sepertinya dengerin lagu "Hujan"nya Utopia cocok deh.. :)
"Hujan" by: Utopia
Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
Segala seperti mimpi Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah
Aku selalu bahagia Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Selalu ada cerita Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku
Minggu pagi, cukup cerah dibanding beberapa hari terakhir yang terlihat muram. Kali ini aku bangun cukup pagi, sehingga ku bisa menghirup udara pagi yang belum tercemar polusi. Entahlah, sebuah hal yang jarang ku lakukan di hari minggu. Sesaat, fikirku terusik oleh mimpiku semalam. Sama sekali tak terbesit dalam benakku. Ah, kamu. Kamu membuat waktuku tersita dengan angan tentangmu.
Drrrtt..drrttt....
Sinyal kuat, seperti ada jaringan khusus yang menghubungkanku denganmu. Kamu pun menelepon, segera.
“Hallo?” sapaku.
“Hey, sudah bangun rupanya?” sahutmu.
“Yeah, ada apa?” tanyaku.
“Umm..may I invite you, come home and we have a breakfast now. How?” kamu menawarkan.
“Mm..boleh.” kebetulan belum sarapan, pikirku. “Okay,see you there” jawabku segera.
“Yes, can’t wait for your coming. See you...”
Tuuutt.....
Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju rumahmu. Bukan karena sarapan yang kamu tawarkan, tapi...entahlah.
Di sebuah rumah, tak terlalu besar namun terasa nyaman dan asri kuberada kini. Kulihat sebuah lukisan mawar putih yang tertempel di dinding ruang tamu. Tak asing bagiku, itu lukisan yang kuantar waktu itu.
“Andai mamah bisa lihat.” katamu, yang juga memperhatikan lukisan yang kupandangi. “Mamah suka sekali mawar putih, so sampai saat ini aku terus merawat taman mawar miliknya.”
Bersyukur, aku masih memiliki Mami dan Papi yang menyayangiku. Sementara kamu, sendiri tanpa Mama yang tlah pergi jauh ke sisi-Nya dan Papa yang tak pernah ada untukmu. Namun, kamu slalu bisa tersenyum. Sekarang, di hadapanku. Ah, harusnya aku banyak belajar darimu.
“Hey, ngelamun!” serumu membuyarkan lamunanku.
“Eh, mana sarapannya? Sudah siap ya? Hehe” sahutku.
Hmm..aroma bawang bombai dan saus tomat mulai tercium. Dua piring spaghetti tersaji di meja makan. Satu hal yang menarik dari kamu, kamu pandai sekali memasak. Ya, suatu keahlian yang tak kupunyai.
“Tenang saja, ga pedes kok. Tanpa saus cabe dan sedikit merica, khusus buat kamu.” terangmu.
“Hehe, tau aja kamu...” sahutku.
Obrolan ringan menyertai sarapan kita. Hingga tak tersisa sedikitpun aku melahap semua makanan yang ada di piringku. Entahlah, sungguh menyenangkan berada di dekatmu. Terasa ringan, seolah tak ada beban yang harus kututupi. Tak ada senyum palsu yang harus kukembangkan.
Sambil menikmati teh manis obrolan santai pun berlanjut ke halaman depan. Aku memilih untuk duduk di ayunan dan sesekali tercium aroma mawar yang terseret angin lembut pagi. Hmm, Beautiful morning!
“Mm..may I ask you?” ujarmu menyela indahnya pagi.
“Apa?” balasku.
“Menurut kamu gimana nih, seseorang musti jadian dulu baru makan bareng, jalan bareng, gandengan tangan, lalu ciuman. Atau sebaliknya. Jalan dulu, makan bareng, gandengan tangan, ciuman lalu jadian?” tanyamu sambil memainkan sebuah karet gelang di tanganmu.
“Tergantung. Kondisional sih, tapi aku pilih opsi yang kedua” jawabku.
“Why?”
“Kurasa, sesuatu itu perlu proses. After that all process has been done...ya, tinggal nentuin aja mau dibawa kemana. Itu pun tergantung ada tidaknya chemistry antara mereka, you know lah”
“Hmm..berarti ada satu hal yang belum aku lakukan” kamu sempat bergumam sendiri, dan tak sengaja aku mendengar gumamanmu yang terdengar jelas di telingaku.
“Apa?” tanyaku padamu.
Kamu hanya tersenyum penuh makna. Lalu, kamu mendekatkan wajahmu. Entah kenapa aku hanya berdiam diri tak bereaksi. Pipiku terasa panas, menanti dan menerka-nerka apa yang akan kamu lakukan dan...secara lembut bibirmu menyentuh bibirku.
End :)
*inspiration song: "Hanya Kau yang Bisa" by Easy Tiger
didedikasikan kepada seseorang yang bisa buatmu kembali tertawa & lupakan semua luka yang ada
Malam ini, sedikit penat kurasa. Rintik hujan pun sudah letih menangis rupanya. Berpeluk jaket kumelangkah menuju ke kawasan pedagang kaki lima yang tak jauh dari gallery tempatku berkarya. Jajanan malam nampak melambai-lambai, tak sabar ingin segera sampai di tangan pembeli. Melihat banyak makanan, sontak saja perut semakin berontak, berdemo kepadaku meminta jatah makan segera diturunkan.
Drrtt..drrrtt...
“Halo chiind! Lagi dimenong? Pulang cepet ga? Adduuhh...rasanya aku mau matii niih...cepetan pulang yah, aku nitip sesuatu!!” suara lebay dari seberang.
“Iya, bentar lagi pulang. Ni mau cari makan dulu. Kenapa sih? Heboh banget!”
“Nah, kebetulan tuh. Aku bungkusin ya, nasi goreng pedas seperti biasa. Kamu makannya di rumah aja, biar ga kelamaan aku nunggunya”
Ternyata si cowok feminin ini sudah balik dari kampung rupanya. Syukur deh, jadi ada yang bantu urus-urus rumah besok.
“Busyet dah ni orang! Minta tolong yang bagusan dikit napa?” jawabku sedikit dongkol.
“Sekalian martabak manis ya, coklat keju. Tengkyuu...”
Tuuut...tuuut....
Setiap hari, hampir setiap malam berkawan dengan hujan. Yah, memang sedang musimnya, namun cukup membantu menyejukkan kota pahlawan ini. Hmm, aroma tanah basah karena hujan ditambah aroma vanili dari penjual martabak membuatku terlena karenanya. Sembari menunggu martabak manis matang, mataku menyapu seluruh kawasan PKL. Terlihat beberapa pasangan muda-mudi nampak asyik menikmati jajanan malam. Ah ya, ini sabtu malam. So what? nothing..
Tak jauh dariku, di sela-sela mereka kulihat kamu. Ya, kurasa itu kamu. Tak begitu menghiraukanmu, lalu aku pun menegaskan langkahku menuju pedagang penjual nasi goreng. Aku dan kamu berpapasan.
“Hai!” sapamu.
“Ya..” balasku sedikit ragu.
“Thank’s ya, barangnya sudah diantar sampai rumah.” katamu sambil memberikan kantong plastik berisi dua bungkus makanan kepadaku.
“Apa ini?” tanyaku sedikit bingung.
“Nasi goreng, yang spesial yang karetnya dua itu buat kamu. Gratis.” jelasmu.
“Ng...” belum sempat ku lontarkan pertanyaan lagi buru-buru kamu menimpali.
“Sorry, aku ga sengaja dengar waktu kamu memesan di pedagang nasgor tadi.”
“Owh...thank’s ya” ucapku sedikit malu.
Kamu pun melangkah pergi, hendak menyeberangi jalan. Namun, refleks ku menggenggam lenganmu dan mengikuti langkahmu. Sesampainya di bibir jalan, aku tersadar dan perlahan melepas genggamanku.
“Sorry...” kataku dan kamu hanya tersenyum padaku. “Ng...aku agak takut kalo nyebrang sendirian. Hehe..”
“Ga papa kok, mungkin lain kali bisa lebih lama lagi” katamu. “Take care ya!” kamu pun beranjak pergi. Namun tak lama, kamu berbalik dan berteriak padaku.
“Hey, lukisanmu jelek! sama sekali ga mirip sama mamah!” teriakmu sambil berlalu.
Aku hanya terdiam, berdiri dan masih menatap punggungmu yang kian menjauh.
Ah, langit masih gelap. Aku masih enggan tuk bangun dari tidurku. Kulihat jam digital ponselku, pukul 08:25. Seharusnya sudah pagi, tapi langit masih gelap tertutup mendung. Kulirik sesuatu persegi terbungkus kertas coklat di sudut kamar. Ah, ya... aku harus mengantar pesanan orang pagi ini.
Kupaksakan mata ini terbuka, sedikit gontai kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Setengah sadar kurogoh saku celanaku, ternyata aku tertidur masih dengan kostumku semalam. Ada dua buah karet gelang, merah dan hijau. Konyol, tanpa sadar aku menyimpan karet gelang darimu kemarin.
Sepi, tak ada penghuni lain yang tinggal di kontrakan ini. Si cowok feminin yang juga tinggal di sini pulang kampung sejak minggu kemarin dan menitipkan sekotak aquarium berisi seekor ikan lele albino kepadaku. Yeah, I have to feed it or it’ll be my breakfast. Hehe...
Yup! Kali ini terpaksa kupesan taxi, skuter yang biasa mengantarku sedang sakit. Kasihan dia, gara-gara kejadian kemarin dia harus dirawat di bengkel untuk beberapa hari.
Tak lama, taxi pun datang. Aku pun bergegas membawa pesanan yang sudah kusiapkan kemarin.
“Wisma Permai bang, dualima ya...” tawarku, tanpa pasang argo.
Deal! Taxi pun melesat mengantarku menuju ke sebuah komplek perumahan. Hmm...aroma tanah basah masih terasa. Bekas hujan semalam masih menyisakan genangan air di jalanan. Pagi ini langit nampak muram, seolah menatap sendu kepadaku. Aku hanya meringis, mengharap secercah sinar menghapus mendung luka yang masih tersimpan. Luka? kurasa bukan...mungkin hanyalah setitik noda yang perlu sedikit kreasi untuk membuatnya terlihat lebih menarik.
Mendadak, goncangan taxi karena polisi tidur membuyarkan lamunanku. Ah, hampir sampai. Nomor 57. Taxi yang kutumpangi berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat putih berpagar coklat kayu. Tampak asri dengan sentuhan tanaman perindang yang tergantung sebuah ayunan di salah satu dahannya, dan... sebuah taman mini penuh bunga mawar. Nice! Secara refleks, aku tersenyum :)
Ting tong...
Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu pagar. Yak, seorang yang sudah pernah kutemui sebelumnya. Kamu...