Pagi mendung, kenapa kamu...
Ah, langit masih gelap. Aku masih enggan tuk bangun dari tidurku. Kulihat jam digital ponselku, pukul 08:25. Seharusnya sudah pagi, tapi langit masih gelap tertutup mendung. Kulirik sesuatu persegi terbungkus kertas coklat di sudut kamar. Ah, ya... aku harus mengantar pesanan orang pagi ini.
Kupaksakan mata ini terbuka, sedikit gontai kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Setengah sadar kurogoh saku celanaku, ternyata aku tertidur masih dengan kostumku semalam. Ada dua buah karet gelang, merah dan hijau. Konyol, tanpa sadar aku menyimpan karet gelang darimu kemarin.
Sepi, tak ada penghuni lain yang tinggal di kontrakan ini. Si cowok feminin yang juga tinggal di sini pulang kampung sejak minggu kemarin dan menitipkan sekotak aquarium berisi seekor ikan lele albino kepadaku. Yeah, I have to feed it or it’ll be my breakfast. Hehe...
Yup! Kali ini terpaksa kupesan taxi, skuter yang biasa mengantarku sedang sakit. Kasihan dia, gara-gara kejadian kemarin dia harus dirawat di bengkel untuk beberapa hari.
Tak lama, taxi pun datang. Aku pun bergegas membawa pesanan yang sudah kusiapkan kemarin.
“Wisma Permai bang, dualima ya...” tawarku, tanpa pasang argo.
Deal! Taxi pun melesat mengantarku menuju ke sebuah komplek perumahan. Hmm...aroma tanah basah masih terasa. Bekas hujan semalam masih menyisakan genangan air di jalanan. Pagi ini langit nampak muram, seolah menatap sendu kepadaku. Aku hanya meringis, mengharap secercah sinar menghapus mendung luka yang masih tersimpan. Luka? kurasa bukan...mungkin hanyalah setitik noda yang perlu sedikit kreasi untuk membuatnya terlihat lebih menarik.
Mendadak, goncangan taxi karena polisi tidur membuyarkan lamunanku. Ah, hampir sampai. Nomor 57. Taxi yang kutumpangi berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat putih berpagar coklat kayu. Tampak asri dengan sentuhan tanaman perindang yang tergantung sebuah ayunan di salah satu dahannya, dan... sebuah taman mini penuh bunga mawar. Nice! Secara refleks, aku tersenyum :)
Ting tong...
bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar