sebuah pernyataan ataukah hanyalah tanya yang menggelitik...
Malam, dengan sedikit taburan bumbu rintik hujan tentunya. Kali ini di sebuah kedai kopi bergaya timur tengah, tak berjubel pengunjung, hanya ada segerombol anak kuliahan yang tengah tenggelam dalam permainan UNO nya. Ini bukan kedai langganan sih, namun menyajikan suatu yang kuinginkan. Sebuah shisha beraroma apple-mint, secangkir espresso panas dan sedikit ketenangan menemaniku malam ini. Ya, masih sendiri...
Sesekali kuhisap shishaku. Fiuuh... diantara kepulan asap itu kulihat bayang-bayang masa lalu. Angan busuk pun sesekali mengintip, menggandengku tuk sejenak menyelaminya (lagi). Oh, sh*t! Akupun mengumpat, sembari memainkan pensil di atas sktech book usangku. Mendadak galau... *uhuk*
Hmm...waktu itu, dia hadir bersamaan denganmu. Dia, pribadi yang cukup menarik sih di mataku (Yeah, I thought). Aku pun mencoba membuka hati untuknya. *ehem* Perlahan, rasa itu semakin tumbuh. Namun, siapa sangka dia yang sedang kucintai tak berniat memupuknya. Singkat cerita, dia datang menawarkan cinta dan aku menyambutnya, setelah aku mulai menyukainya dia mengabaikanku. But, its over now. Its okay, it has gone away.
Seorang pelayan datang membawakan sepiring sambousa. “Thank’s” kataku.
Anganku masih melayang. Kali ini bukan tentang dia. Sambil melahap sambousa di hadapanku, anganku melayang ke kamu. *eaaa* Ya, kamu! Tak lain adalah teman dia. Jadi ingat secuil pertanyaanmu kala itu, saat ku merasa kecewa oleh dia.
“Lalu, kenapa kamu menerimanya?” tanyamu padaku. Kemudian hening.
Ugh.. sebuah pertanyaan yang menyebalkan, seolah menghakimiku. Salah ku kah?
Ah, aku tak lebih dari selembar ketololan yang tak mengerti akan permainan hati. Aku mungkin terlalu sibuk dengan autisme diriku sendiri, sehingga aku tak paham bagaimana cara mencinta ataupun dicinta. Cih! Kuseruput espressoku, kali ini diiringi cairan hangat yang mengalir melalui hidungku. Merah. Mungkin akibat insomnia dua hari terakhir ini.
Hahh... *sigh* Lalu, kamu pun hadir seolah menawarkan semacam harapan. Ah, siapa sih aku. Bukan sesuatu yang pentinglah, kamu pun juga tak perlu repot-repot menghiburku. I don’t care. Aku mencoba bersikap netral, mencoba mengabaikan rasa yang ada. Sampai pada suatu saat muncul sebuah statement darimu... *uhuk*
“Actually, I’ve liked you since we first met” you said. “But, you chose my friend...”
Whaaats??!! Oh my gosh! *speechless* I didn’t know what should I said. Keadaan sungguh berbeda. Entahlah, kontroversi berkecamuk dalam otakku. Sebenarnya, aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Tak semudah untuk diucapkan.
beep...beep...
1 new message, dari nomor tak dikenal:
[Yank, beliin pulsa ke nomor ini ya 081xxx xxx. Nanti aku telepon!]
Oow, rupanya mama sudah tidak minta pulsa lagi. Modus, SMS tak penting. Abaikan! Oke, be right back...
But now, it has been so complicated. You’ve made me ‘fall’, but you said: “I’m really sorry, don’t expect me...”
So?? Great! You fuckin’ awesome! Yeah, very entertaining... (standing ovation) *plok plok plok*. It happened again. Damn! I hate this feeling... crud! kusumpal tissue ke hidungku, berusaha menyumbat aliran darah yang tak segan-segannya menetes.
Otak simpel ku mulai bertanya. “But, why? It may can be easy, kenapa harus dipersulit? Ah, apa sih?” pikirku. You’re just playing mind games, and I’ve drowned. You’ve made me feel so sick. So, who cares...
Kuhisap shishaku, mencoba menenangkan perseteruan antara otak dan hati. Dan, matalah yang menjadi korban perseteruan mereka. T_T
“KEJAM” kata inilah yang menurutku cukup mewakili.
Aku masih tak mengerti, benar-benar tak mengerti. Lalu, apalah arti sebuah hati. Apalah arti sebuah hati. Dan kukatakan sekali lagi, apalah arti sebuah hati.
Hahh... *sigh* Lelah yang tak berujung, kini berubah menjadi sebuah kemalasan. Malas tuk merasa, malas tuk berlari, malas tuk mengejar. Yah, apalah arti sebuah hati. Hati hanyalah segumpalan berwarna merah, sebuah ruang persinggahan antara suka dan duka. Tak ada yang benar-benar nyata menetap oleh permainan sebuah cinta.
“Mas, bisa tambah arangnya?” pintaku pada seorang pelayan kemudian.
Kembali, menikmati kecupan hangat espresso, desahan lembut aroma apple-mint, and...drawing a (fake)smile... *simple joy* ^^,
