Aku berada dalam kemarku, sendiri. Kututup rapat pintu kamar tanpa kunci itu. Aku tak pernah mengijinkan orang lain mencampuri urusanku. Orang lain hanya akan mengganggu duniaku. Dunia yang aku ciptakan. Akupun memulai percakapanku sendiri. Beberapa boneka dengan kepala gundul dan tangan yang sudah terpenggal olehku terkulai lemas. Terlihat pasrah mengikuti gerak gerik tangan mungilku. Aku tersenyum bangga, saat ini aku menjadi penguasa. Penguasa dalam duniaku. Boneka-boneka itu pun tanpa protes patuh mengikuti jalan ceritaku dan mendapat perannya masing-masing. Aku semakin asyik dalam duniaku, dimana hanya aku seorang sebagai pengendalinya.
Krieettt...
Tiba-tiba pintu terbuka, cahaya silau masuk dari celah pintu dan sosok itu muncul hendak menghampiriku.
Aaaargghhh........akupun menjerit!
Ffiuhh...aku terbangun dari mimpiku. Shit! Mimpi itu lagi...keringat dingin membasahi keningku. Masa lalu, 20 masa silam yang pernah kualami.
Broken this fragile thing now
And I can't, I can't pick up the pieces
And I've thrown my words all around
But I can't, I can't give you a reason
I feel so broken up (so broken up)
And I give up (I give up)
I just want to tell you so you know
Here I go, scream my lungs out and try to get to you..
You are my only one...
I let go, there's just no one that gets me like you do…
You are my only, my only one...
Yak, akupun tersadar. Kembali ke alam nyataku, setelah lagu “Only One” dari Yellow card meraung-raung dari speaker ponselku. Jam digital ponselku menunjuk pukul 06.00 pagi. Mataku menyapu seluruh ruangan kamar...dan aku masih sendiri. Sama seperti dalam mimpi itu. Cahaya mentari mengeliat liat memaksa menerobos celah-celah kelambu yang sengaja kututup rapat. Namun cahaya itu seenaknya nyelonong masuk karena kelambu sedikit tersingkap oleh hembusan angin dari celah ventilasi. Mataku masih sayup, enggan tuk segera beranjak dari singgasanaku. Singgasana yang mampu melepas letihku. Ya...di sana tak jauh dari pandanganku, samar samar ku lihat anak itu. Anak seusia denganku, dengan postur tubuh yang sama denganku. Dia pun menoleh padaku, lalu tersenyum.
Hay..! sapanya.
Aku masih terdiam ragu.
Lalu dia menghampiriku, menawarkan jemarinya. Aku pun menyambutnya. Dingin, sedikit kasar. Mata bening penuh kepercayaan diri itu menatapku tajam. Lalu dia berkata.
Gw Gecko. Gw datang buat loe. Sekarang tak ada apapun yang perlu dikhawatirkan.