Senin, 19 September 2011

Tak Ingin Jatuh (part 1)

Twilight 'Bukit Bintang'


Saya jatuh ke jurang, motor rusak parah. Saya tidak merasakan sakit sedikitpun *...dan saya sudah melayang2 di udara*

Senja...

Semburat oranye tersirat melukis langit sore itu. Kabut mulai turun, hawa dingin pun kian memeluk tubuhku namun tak menyurutkan niatku tuk menyusuri jalanan berkelok itu. Jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas dari arah berlawanan. Samar-samar alunan adzan berkumandang menggema dari balik gunung. Belum ada separo perjalanan menuju tempat yang akan kukunjungi, kuputuskan tuk terus melanjutkan perjalanan tanpa istirahat. Langit pun mulai gelap, tak ada penerangan jalan selain dari sorot skuterku. Aku mulai menyetir dengan insting, samar-samar... karena penglihatanku sudah mulai kabur. Sebenarnya penat yang kurasa, namun tak kuhiraukan lagi. Hanya ada satu di benakku, aku ingin segera melihat mereka. Mereka yang sangat mengasihiku.

Jalanan semakin sepi, tak ada kendaraan yang melintas dari arah berlawanan. Hanya ada sebuah mobil pick-up yang berada tak jauh di depanku. Lintasan mulai menikung, mobil  pick-up yang berada di depan ku pun kian menjauh dan tak nampak lagi karena terhalang oleh kabut. Tiba-tiba gerimis, jalanan yang kulalui sedikit licin. Aku hanya perlu berhati-hati saat melintas di tikungan. Namun secara tak terduga kemudiku sedikit goyah ketika aku melaju cukup kencang. Di depanku nampak sebuah tikungan yang cukup tajam. Aku tak mampu lagi mengendalikan skuterku, dengan sekejap aku terpelanting menuju jurang yang membentang di hadapanku.

Seperti mendapat shock terapi. Otakku berhenti bekerja, tak ada yang bisa kulakukan. Kulihat skuterku terjatuh jauh ke bawah sana. Sekilas ku memandang ke bawah, nampak sebuah danau yang cukup luas. Tanganku masih bertahan pada sebuah batu yang sempat ku gapai. Inginku ikut terjun saja mengikuti skuterku dan jatuh ke danau, namun aku pun tersadar aku sama sekali tak bisa berenang. Itu sama saja dengan bunuh diri. Ataukah aku tetap bertahan dan kembali ke atas, dan itu tak kan mungkin dilakukan karena lenganku sudah mati rasa.

Aneh, perlahan tubuhku terangkat dengan sendrinya. Terasa ringan... aku semakin menjauhi tempat ku bertahan tadi. Otakku benar-benar tak mampu lagi bekerja, secara logika seharusnya jatuh dari ketinggian lebih dari 5 meter tubuhku sudah babak belur penuh luka. Namun aku tak merasakan sakit sedikitpun.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar