Sesuatu mencengkeram lenganku, dan menghempaskan ku entah kemana. Aku tak berani membuka mata, angin kencang menampar-nampar mukaku. Setelah mereda, kuberanikan diri tuk membuka mata. Silau cahaya terang tepat berada di depanku, secara refleks aku pun menyipitkan mata. Cahaya itu terlalu silau. Ku tajamkan pendengaranku, seolah aku berada di tengah keramaian. Lalu lalang suara kendaraan dan bisingnya klakson menyadarkanku. Ya, aku berada di tengah jalan raya. Nampak sebuah truk tronton bermuatan berat melaju ke arahku, lampunya menyorot tepat ke mukaku. Yah, kurasa aku tak mampu menghindar lagi. Aku terduduk, kututup mata dan telingaku. Berharap ada sesuatu yang menerbangkanku dari situ.
Beberapa saat kemudian aku tersadar. Perlahan kubuka mata dan telingaku, suara bising dan keramaian itu sudah menghilang. Kini aku berada di sebuah taman yang tak asing bagiku. Aku terbaring di bawah pohon akasia. Tubuhku terasa lemas seolah tenagaku habis terkuras. Samar-samar kudengar sebuah percakapan tak jauh dari tempatku terbaring. Nampaknya suara itu tak asing bagiku, lalu kuberanikan diri mendekati ke arah sumber suara itu.
Gelak tawa terdengar. Nampak sekelompok pemuda bercakap dengan logat jawa sedang bermain sanggong. Mereka, aku mengenalnya. Salah satunya adalah kekasihku yang sudah dua minggu ini tak pernah menghubungiku. Syukurlah, dia terlihat sehat dan bergaul dengan teman-temannya. Aku mencoba memanggilnya, namun suaraku tercekat. Tak ada yang keluar dari bibirku. Percuma...mereka tak kan mendengarku. Sudahlah, mungkin dia sudah tak peduli lagi padaku. Aku pun memutuskan tuk meninggalkan tempat itu.
Aku berlari dengan sekuat tenaga menuju jalan raya. Ada sebuah bus yang berhenti tak jauh dari pandanganku sedang menunggu penumpang. Ya, aku akan pulang. Namun betapa bodohnya aku. Tak sepeser uang pun yang kubawa dan aku juga tak membawa alat komunikasi. Namun aku tetap menaiki bus itu. Hmm...lengang, hanya ada 4 penumpang. Semua terlihat diam dan membisu. Kupilihlah duduk di deretan nomor dua dari depan. Tak lama kemudian, bus malam yang kutumpangi melaju dengan pesat.
Tak terasa, serasa hanya sekejap bus melaju namun sudah berhenti. Aku menengok keluar dari balik kaca, ternyata bus berhenti tepat di depan rumahku. Aku pun segera turun. Astaga! Pak kondektur lupa menarik tiket padaku. Yah, sudahlah...mungkin sudah tau kalo aku tak punya uang sepeser pun.
Dini hari, rumah tampak sepi. Kuketuk pintu depan, namun tak ada sahutan. Kutengok garasi, ternyata tak ada mobil yang terparkir. Itu artinya orang rumah sedang pergi. Aku masuk lewat pintu samping yang sepertinya tidak terkunci. Berhasil! Aku berhasil masuk rumah. Aku tak kuat menahan lelah yang menggelayutiku. Aku pun segera menuju kamarku, dan kurebahkan tubuhku. Dalam hati kubertanya, kemanakah keluargaku, saudaraku, dan teman-temanku. Tak adakah yang mencari diriku?
bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar