Sabtu, 01 Oktober 2011

Tak Ingin Jatuh (the last)

1 Oktober, peralatan medis itu akan dilepas...

Angin bertiup tak terlalu kencang. Noktah-noktah kelap kelip bercahaya mewarnai langit malam ini. Tampak sekelompok pengamen jalanan menghampiri tempatku bersila. Dinyanyikannya tembang jawa campur sari diiringi alat musik seadanya. Semua tampak normal. Di kedai kopi di pinggiran jalan, kunikmati kopi panas bersama kawan-kawanku. Sengaja kuhabiskan malam ini bersama mereka. Benar-benar kunikmati malam ini. Kupersembahkan tawa dan canda dengan tulus buat mereka dan tak kan kusia-siakan moment yang mengasyikkan ini.

Entahlah, ini sebuah kesempatan kedua atau kesempatan terakhir buatku. Yang jelas aku ingin memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya. Tak ada kata yang bisa kuucap selain kata maaf dan terima kasih bagi orang-orang yang pernah mewarnai kehidupanku.

Sebelum ku kembali ke tengah-tengah keluargaku, aku menyempatkan tuk bertemu kekasihku. Mm..entahlah apa dia masih menganggapku demikian. Sayang...tak perlu kau jelaskan apa-apa padaku, aku memang tak tau dan aku juga tak mau tau. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu. Kupeluk dia, dan mungkin tuk terakhir kalinya. Lalu kubisikkan kata maaf dan terima kasih padanya. Pertemuan yang singkat, namun kuharap bisa menjelaskan semuanya.

Di rumah, seperti biasa. Mami, papi dan aku bercengkerama di ruang tengah dan sesekali mengomentari acara di televisi hingga sore menjelang. Tampak wajar, tak ada hal yang berbeda. Lalu aku berinisiatif membersihkan seluruh isi rumah setelah itu. Suatu hal yang benar-benar jarang kulakukan. Mungkin tampak aneh, tapi papi & mami terlihat senang sekali. Aku pun tersenyum bangga. :)

Menjelang petang, kukemasi seluruh barang-barangku. Tidak..aku tidak akan membawa pergi barang-barangku, aku juga tidak akan kemana-mana. Aku hanya tidak ingin membuat mereka repot membereskan perkakasku saja. Pernah kubertanya pada seseorang, apa yang mebuatmu bersedih sepeninggal orang yang kamu kasihi? Dia menjawab, saat kukemasi barang-barang miliknya. Setiap melihat barang miliknya akan mengingatkanku dan meneteskan air mataku. Maka, aku pun tak ingin membuat orang di sekitarku merasa demikian.

Melewati tengah malam, semuanya sudah beres kukemasi. Sempat kukirim pesan singkat buat kakakku tersayang bahwa aku sungguh menyayanginya. Lalu, kuhampiri kamar papi mami yang tak terkunci itu. Kulihat mereka sedang terlelap nyenyak. Kukecup dahi papi dan mami lalu kubisikkan I love you... :)

Huahh...tinggal rasa lelah dan kantuk yang kurasa. Aku semakin tak kuat menahan rasa kantuk, tubuhku pun semakin terasa dingin. Selimut yang menyelimutiku sepertinya tak mampu menahan hawa dingin ini. Sekarang, kupasrahkan sisa waktuku kepada yang kuasa...

Maaf. Aku tak mampu melanjutkan cerita ini, sudah bukan kuasaku lagi. Sekian. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar