Hujan...entah kenapa rintik hujan selalu saja menyisakan ruang rindu. Teringat akan serpihan masa yang sudah lalu. Aromanya begitu kental, aroma tanah basah menyegarkan, aku suka itu. Ah, kali ini aku tak kan membahas tentang rindu atau apapun semacamnya. Hanya saja kali ini momennya memang sedang hujan.
Rabu malam, sepertinya hujan deras telah mengguyur kawasan di sebuah kompleks ruko, menyisakan genangan-genangan air di jalanan. Masih hujan, tak begitu deras dan tak terlalu dingin namun cukup menyejukkan kota pahlawan yang beberapa hari terakhir ini berteriak kegerahan. Aku berlari kecil melewati trotoar seraya menenteng sesuatu persegi berukuran 40x40 cm terbungkus kertas coklat dan dibalut plastik transparan yang tak lain adalah buah karyaku. Langkahku pun terhenti di sebuah kedai kopi beraksen klasik dengan bangunan bercat serba hijau dibalut warna coklat kayu. Tak ada salahnya ku menikmati kopi di sini dan ditemani rintikan hujan. So romantic or...ah, sudahlah....
Tak begitu ramai, hanya ada seorang barista, dua pelayan dan dua penikmat kopi yang duduk di dekat meja order. Dan..satu lagi, kamu. Kamu berada tak jauh dari pintu masuk yang dibiarkan terbuka oleh sang pemilik kedai. Kamu duduk sendiri dengan coffee cream yang sepertinya baru saja dipesan. Ah, perhatian sekali aku. Tidak juga, karena baru saja aku melihat seorang pelayan mengantarkannya ke mejamu dan itu tepat saat aku baru memasuki pintu kedai dan... ya, kamu tampak seperti sedang memelototiku. That’s so annoying!
Wew! rambutku sedikit basah terguyur hujan dan juga ini, bercak cipratan comberan yang diciptain sopir taxi tadi membentuk corak abstrak pada blazer abu-abu yang kukenakan. Ya, mungkin tampilanku memang sedikit kacau sehingga sampai detik ini kamu tak berhenti untuk memelototiku. Apalagi aku terlihat seperti habis kebanjiran dengan sepasang sendal jepit karet dan celana jeans yang kucincing hampir selutut. Hellow, ada yang salah denganku?? Ah, ke toilet sajalah...
Sehabis bebersih diri dari toilet tanpa basa basi kupesan sepiring nasi goreng spesial ga pake pedes di meja order.
“Maaf, kami tidak menyediakan menu nasi goreng” sahut seorang pelayan kepadaku.
Konyol! Ini kan kedai kopi, bukan warung nasgornya bang Jaja. Ah, otak sama perut sudah tidak sinkron lagi rupanya.
“Becanda ah mas” balasku ngeles sambil cengengesan “Hot Cappucino-nya aja sepiring, eh..secangkir maksudnya"
Sambil meletakkan blezer dan tas slempang di kursi kosong tempat yang kupilih, kulirik kamu yang masih duduk di sana. Kamu sudah tidak memelototiku lagi, mungkin matamu sudah letih seperti mau keluar karena terlalu lama melotot. Kulihat kau sibuk dengan ponsel yang kamu pegang. Sepertinya kamu pun tersadar, buru-buru aku membuang muka.
Kutengok keluar, ternyata hujan mengguyur semakin deras. Untunglah aku sudah tidak berkeliaran di jalanan. Sejenak melepaskan penat, sendiri kunikmati kopi panas yang tadi kupesan dan sesekali kuhisap rokok putih di tanganku. Hmm..nikmat! kurasa cukuplah memberi sedikit ketenangan atas beberapa kekecewaan yang kutelan hari ini.
Ctaakk!!
Widih, ada yang usil. Karet gelang warna merah tepat mengenai jidatku. Ternyata...hey kamu! Kamu rupanya. Suka sekali menganggu ketenangan orang. Kulirik kamu yang ada di sana, tak ada rasa bersalah malah tersenyum puas. Hmm..tidak, tidak. Aku tidak membalasnya, hanya buang-buang energi saja. Cuekin sajalah.
Widih, ada yang usil. Karet gelang warna merah tepat mengenai jidatku. Ternyata...hey kamu! Kamu rupanya. Suka sekali menganggu ketenangan orang. Kulirik kamu yang ada di sana, tak ada rasa bersalah malah tersenyum puas. Hmm..tidak, tidak. Aku tidak membalasnya, hanya buang-buang energi saja. Cuekin sajalah.
Ctaakk!!
Kembali, karet gelang mengenai jidatku. Kali ini warna hijau.
Kembali, karet gelang mengenai jidatku. Kali ini warna hijau.
“Hey, kamu! Satu kali lagi kena jidat saya, dapet piring cantik kamu” seruku padamu.
“Ogah ah, saya maunya nona cantik saja” jawabmu.
Aku diam saja, malas membalasnya.
“Itu dua karet dari saya, simpan baik-baik. Anggap saja kenang-kenangan dari saya. Satu karet lagi, nantilah kalo kita ketemu lagi. Haha.. ” kamu pun ngeloyor begitu saja keluar kedai.
Yak..aku cuma bisa nyengir tak jelas.
Yak..aku cuma bisa nyengir tak jelas.
bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar