Selasa, 07 Juni 2011

'DONGENG' SEBELUM TIDUR

About 15 years ago

“Bayu, ini nggak lucu deh!!” teriak mami.

“Emang enggak, siapa juga yang mau ngelawak!” balas papi.

“Lalu...kamu anggap aku ini apa??” mami mulai terisak. “aku juga punya perasaan!”

“Jadi, mau kamu apa?? Aku sudah muak dengan keadaan ini!!” kata papi tak kalah kerasnya dengan suara mami.


Sudah hampir setahun ini papi dan mami bertengkar, saling menyalahkan dan tak ada yang mau introspeksi diri. Aku tak mau turut campur masalah mereka, yang mampu aku lakukan hanyalah menyaksikan pertengkaran mereka bak acara reality show yang kusaksikan secara live mengintip dari balik pintu kamarku.


Blaammmm!! Kudengar suara pintu dibanting dengan keras yang sempat membuatku terlonjak. Kudekap dadaku khawatir kalau jantungku tiba-tiba melompat keluar. Aku pun sembunyi di bawah selimut, tengkurap dan menutup kepalaku dengan bantal rapat-rapat. Aku takut, sangat takut sekali. Berharap semua yang kusaksikan ini hanyalah mimpi atau paling tidak hanyalah sebuah lakon sinetron yang setiap hari ditayangkan di televisi.


Brrmm... suara mobil dipacu keluar rumah, pasti ada yang pergi meninggalkan rumah hingga suara kekacauan berangsur memudar. 

Kriett...ada yang mencoba membuka pintu kamarku.

“sayang, kamu sudah tidur?” suara mami, berarti papi yang tadi pergi.
Kutarik selimut yang menelungkup di badanku. Kujawab pertanyaan mami dengan gelengan.

“Kamu takut ya??” ucap mami sambil mengelus kepalaku. “Sudah, tidak apa-apa. Semua ini akan segera berkahir sayang... mami sayang kamu! ” ucap mami menenangkanku sambil memeluk tubuhku.

Aku hanya diam saja. Karena aku tau itu hanyalah sebuah kata-kata. Entah mami atau papi bilang sayang padaku, tapi mereka tak pernah benar-benar ada untukku. Lalu kubaringkan tubuhku sambil memeluk boneka devil yang kutemukan di jalan sepulang sekolah tadi.

“Have a nice dream honey..” ucap mami sambil mengecup keningku. 

Mami pun berlalu dan mematikan lampu kamar sebelum ia pergi. Sekarang yang kulihat hanya gelap. Bayang-bayang pohon yang dibuat dari pantulan sinar dari luar jendela seolah menari-menari melambai padaku mengajak tuk keluar menikamti malam. Ingin rasayanya ikut menari bersama mereka, namun kuurungkan niatku dan aku memilih tuk segera tidur tak sabar menantikan mimpiku yang sedang kupikirkan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar